Indoposonline.NET – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat tahun ini ada 83 penawaran umum dalam proses (pipeline) masuk Bursa Efek Indonesia (BEI). Nilai total seluruh penawaran itu, ditaksir mencapai Rp52,56 triliun.
Karena itu, untuk mengakomodasi penawaran umum tersebut, OJK bakal meningkatkan basis suplai. Salah satunya, mengakomodasi calon emiten sektor ekonomi baru atau perusahaan rintisan (startup). ”Mengakomodasi startup IPO untuk meramaikan perdagangan saham,” tutur Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Selasa (10/8).
Baca juga: Lepas 120 Ribu Saham BMRI, Dirut Bank Mandiri Raup Dana Rp699 Juta
Penghimpunan dana melalui pasar modal per 3 Agustus 2021 tumbuh 99,36 persen secara tahunan menjadi Rp117,94 triliun, dari 27 emiten baru. Hasil itu, hampir melampaui tahun lalu Rp118,7 triliun. Penghimpunan dana itu, belum mengalkulasi realisasi IPO PT Bukalapak (BUKA) senilai Rp21,9 triliun. ”Pengujung 2021, kami optimistis kembali mencapai level sebelum pandemi Covid-19,” imbuh Wimboh.
Antusiasme dan optimisme penghimpunan dana melalui pasar modal diharap menjadikan pasar modal sebagai motor penggerak pemulihan ekonomi nasional. Pandemi Covid-19 menyebabkan mobilitas masyarakat terbatas sehingga terjadi penurunan konsumsi masyarakat. Itu berdampak pada peningkatan disposable income yang mengendap berbentuk simpanan di perbankan.
Baca juga: Mulai 16 Agustus, Masuk BEI Minimal Sudah Vaksin Pertama
Selain itu, kebijakan fiskal, dan moneter juga ikut mendongkrak likuiditas pasar. Implikasi kebijakan itu, membuat masyarakat memiliki dana berlebih untuk investasi. Per Juli 2021, investor pasar modal melesat 93 persen secara tahunan menjadi 5,82 juta. Jumlah investor itu, didominasi investor ritel berusia di bawah 31 tahun. Pertumbuhan investor itu, dua kali lipat sejak awal pandemi. (abg)



























