indoposnews.co.id – Hajatan right issue Bank Tabungan Negara (BBTN) terus berjalan meski ada beberapa perubahan jadwal. Informasi beredar di kalangan pelaku pasar menyebutkan aksi korporasi itu akan terlaksana sebelum 2022 berlalu.
Saat ini, BTN tengah menanti pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Setelah mengantongi pernyataan efektif, prospektus final akan dirilis, dan proses right issue mulai dijalankan. Oleh karena itu, tanggal indikatif sebagaimana disampaikan pada prospektus awal akan mengalami sedikit koreksi. Misalnya, tanggal cum date, ex date, periode perdagangan right, dan distribusi saham.
Baca juga: Tahun Depan KPR Tumbuh Positif, BTN Garap 5,8 Juta Generasi Milenial
Cum date adalah tanggal terakhir perdagangan saham dengan HMETD. Sedang ex date adalah tanggal perdagangan saham tanpa HMETD. Artinya, masyarakat yang berminat mendapat right, harus memiliki saham BTN paling lambat pada tanggal cum date. ”Publik mesti ingat tanggal ini agar tidak ketinggalan mengikuti right issue BTN. Ini kesempatan langka mendapat harga diskon saham BTN. Saat ini, PBV BTN 0,76x, dan sangat mungkin right BTN di bawah harga saham induk. Jadi, dua kali diskon,” tutur Tirta Gilang Citradi, Analis MNC Sekuritas.
Soal harga pelaksanaan, sejauh ini belum ada informasi. Manajemen akan menyampaikan dalam prospektus final. Harga itu didapat dari proses penjaringan minat dilakukan manajemen dalam sejumlah roadshow ke investor, terutama institusi asing. Oleh karena itu, informasi yang menyebut harga right Rp500, keliru besar.
Baca juga: Respons Investor Asing Luar Biasa, BTN Makin Percaya Diri Jelang Right Issue
Harga itu, merupakan nominal saham yang dicantumkan pada prospektus awal. ”Nominal saham itu bukan harga saham, bukan pula harga right. Exercise price baru akan muncul pada prospektus final, berikut rasio right,” imbuh Tirta.
Sebagai informasi, dalam aksi korporasi right issue, setelah melakukan RUPS, emiten biasanya melakukan pengumuman lagi dalam dua tahap. Pertama, keterbukaan informasi mengenai right issue berisi informasi indikatif. Kedua, pengumuman tambahan informasi dari prospektus bersifat final setelah pernyataan pendaftaran menjadi efektif.
Baca juga: Sangat Mudah! Realisasi Kredit Online via BTN Properti Melambung 66 Persen
Untuk itu, para investor yang tertarik mengikuti right issue BTN diharap terus memantau keterbukaan informasi untuk mendapat informasi terbaru. Right issue BTN tergolong langka. Sebelumnya terjadi 10 tahun lalu atau tepatnya pada 2012. Aksi korporasi itu, juga menarik untuk dicermati karena sejumlah analis memberi pandangan positif terhadap kinerja BTN ke depan.
Analis RHB Sekuritas Indonesia Ryan Santoso dan Andrey Wijaya mengatakan, masuknya dana segar baru dari pelaksanaan right issue bakal mengerek capital adequacy ratio (CAR) BTN menjadi sekitar 19-20 persen, dibanding catatan September 2022 sebesar 17,3 persen. ”Kami memperkirakan masuknya dana segar baru itu memperkuat kemampuan, dan mendongkrak pertumbuhan kredit ke depan. Apalagi pemerintah merencanakan peningkatan pemberian subsidi pembelian rumah bagi 200 ribu unit pada 2023 dibanding target sepanjang 2022 sekitar 168 ribu,” terangnya dalam riset beberapa waktu lalu.
Baca juga: Gelar IPEX 2022, BTN Bidik KPR Baru Rp1,5 Triliun
RHB Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BTN dengan target Rp2.450 per lembar. Proyeksi itu, juga merefleksikan makin pesat peningkatan laba bersih perseroan setelah right issue tuntas tahun ini. Sebelumnya, BRI Danareksa Sekuritas telah merekomendasikan beli saham BTN dengan proyeksi Rp2.500 per helai. Target itu, mereflesikan kuatnya pertumbuhan kinerja keuangan hingga September 2022.
Target harga itu, juga menggambarkan ekspektasi peningkatan laba bersih BTN menjadi Rp2,97 triliun pada 2022, dan menjadi Rp3,41 triliun pada 2023, dibanding pencapaian edisi 2021 sejumlah Rp2,37 triliun. PPOP perseroan juga diprediksi meningkat menjadi Rp7,61 triliun pada 2022, dan senilai Rp8,18 triliun pada 2023, dibanding perolehan tahun lalu Rp6,66 triliun.
Baca juga: BTN Bidik Potensi KPR Subsidi 200 Ribu Mitra Gojek
Rekomendasi beli saham BTN juga datang dari Mandiri Sekuritas dengan target price sekitar Rp2.300 per lembar. Rekomendasi beli itu, tidak terlepas dari rencana right issue BTN yang tengah berjalan. Dana hasil right issue sekitar Rp4,13 triliun untuk memperbesar kapasitas pembiayaan perumahan.
Berikutnya, MNC Sekuritas menilai right issue BTN sangat menarik. Itu karena didukung valuasi harga saham masih rendah, fundamental perusahaan solid, dan prospek kinerja ke depan positif. MNC Sekuritas juga memproyeksi harga saham BTN bisa menembus Rp2.300 per helai setahun mendatang. (abg)



























