• Redaksi
Kamis, Februari 12, 2026
indoposnews.co.id
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • NEWS
    • Nasional
    • Politik
    • Nusantara
    • Hukum
    • Ibu Kota Negara
    • COVID-19 UPDATE
  • Ekonomi
    • Tekno
  • Olahraga
  • JABODETABEK
  • Gaya Hidup
    • Fashion
    • Beauty
    • Health & Fitness
    • Hunian
    • Jalan- Jalan
    • Kids
    • Kuliner
    • Pendidikan
    • Otomotif
  • HIBURAN
    • selebritis
    • Musik
    • Film
      • Review Film
    • Televisi
    • Mancanegara
    • Bollywood
    • K – pop
    • Budaya
  • Opini
  • Indeks
  • Home
  • NEWS
    • Nasional
    • Politik
    • Nusantara
    • Hukum
    • Ibu Kota Negara
    • COVID-19 UPDATE
  • Ekonomi
    • Tekno
  • Olahraga
  • JABODETABEK
  • Gaya Hidup
    • Fashion
    • Beauty
    • Health & Fitness
    • Hunian
    • Jalan- Jalan
    • Kids
    • Kuliner
    • Pendidikan
    • Otomotif
  • HIBURAN
    • selebritis
    • Musik
    • Film
      • Review Film
    • Televisi
    • Mancanegara
    • Bollywood
    • K – pop
    • Budaya
  • Opini
  • Indeks
No Result
View All Result
indoposnews.co.id
No Result
View All Result
Home Headline Utama

Terowongan Terindah

abu by abu
1 Agustus 2023 05:27
Tol Cisumdawu

MEMESONA - Terowongan kembar tol Cisumdawu tampak indah dari udara. FOTO - ISTIMEWA

Share on FacebookShare on Twitter

indoposnews.co.id – AKHIRNYA saya lewat jalan tol baru di Jawa Barat ini: Cisumdawu. Dari Cileunyi ke Kertajati. Lewat sebelah gunung Tampomas. Sepanjang 61 km. Yang agak beda dengan bayangan saya: soal terowongan. Twin tunnel. Ternyata bukan menembus gunung tinggi. Itu menembus seonggok bukit. Karena itu terowongannya tidak panjang: 470 meter. Atau itu cukup panjang untuk ukuran Indonesia: satu-satunya. Belum ada pembandingnya.

Selama ini hanya ada terowongan kereta api. Banyak sekali: 19 terowongan. Di perbatasan Jember-Banyuwangi ada terowongan Mrawan. Panjangnya 690 meter. Di bawah gunung lebih tinggi. Kita kagum: di tahun 1901 sudah bisa membuat terowongan sepanjang itu. Terowongan Ijo, dekat Gombong (Kebumen), lebih tua lagi: 1885. Panjangnya 580 meter. Di zaman awal Orde Baru sudah bisa membangun terowongan di Sumberpucung, antara Malang-Blitar. Tahun 1969. 

Namanya khas Orde Baru: Terowongan Eka Bahti Karya. Panjangnya 750 meter. Jawa Barat punya banyak terowongan tua. Salah satunya hampir 1.200 meter. Namanya terowongan Wilhelmina. Tahun 1914. Di Kecamatan Kalipucang, sekarang masuk Kabupaten Pangandaran. Inilah terowongan terpanjang, dan terindah di Indonesia. Tapi nasibnya seperti Ratu Belanda itu: meninggal dunia. Bersamaan dengan matinya jalur kereta api di situ. Ekonomi Pangandaran perlu ditolong. 

Baca Juga

Bertansformasi, BTN Menjadi Bank Lebih Modern

Simak! Ini Alasan Indonet Cabut dari Pasar Modal Indonesia

Maksimalkan Emas Pani, Merdeka Gold Eksekusi Transaksi Rp9,84 Triliun

Memburuk, Fajar Surya Tekor Rp1,13 Triliun

Baca juga: Seteru Keluarga

Siapa tahu terowongan ini bisa membantu. Tapi untuk apa ya Kita kembali ke Terowongan Kembar di jalan tol dekat Tampomas. Awalnya, pembuatan terowongan itu saya sangka sebagai faktor penyulit. Masa pembangunan tol 62 km ini sampai 12 tahun. Saya jadi ingin tahu: ada masalah apa saja kok begitu lambat. Atau tidak usah cari tahu. Toh kini sudah jadi. Hasilnya sudah dirasakan banyak orang. Sumedang sangat beruntung. Efisien sekali. Saya hanya perlu 35 menit di tol ini. 

Itu pun tidak ngebut. Mas Sukron, direktur Radar Tegal-Pekalongan mengemudikan mobil, tumben, tidak jadi pembalap. Begitu dekat rasanya jarak antara Bandung (dari tol di depan stasiun kereta cepat Tegalluar), ke ujung jalan tol di dekat bandara Kertajati. Yang juga jauh dari bayangan saya adalah: soal keindahan alam kanan-kirinya. Tidak seindah bayangan saya. Rasanya Semarang-Boyolali lebih indah. Atau sebanding. Keindahan Semarang-Boyolali lebih panjang. Mungkin karena Cisumdawu tidak melewati bagian paling indah alam Priyangan.

Cisumdawu punya Gunung Tampomas yang 1.600 meter. Tapi Semarang-Boyolali justru punya gunung kembar. Duo Mer. Merapi dan Merbabu. Yang paling emosional di perjalanan Cisumdawu ini adalah Kang Dadan. Ia direktur Harian Radar Tasikmalaya dan Tasikmalaya TV. Ternyata ia lahir di desa yang dilewati jalan tol ini. Agak ke samping kanan sana. Ayahnya pernah beli tanah yang dilewati jalan tol ini. Pertimbangannya: akan ada jalan tol di situ. Ditunggu lebih lima tahun tidak juga dimulai.

Baca juga: Tulisan Tentera 

Dijual lagi. Sang ayah seorang guru yang ingin anaknya jadi insinyur pertanian. Kang Dadan disekolahkan ke SPMA di kecamatan Tanjungsari. Sekolah Pertanian Menengah Atas. Tiap hari ia naik angkot 1 jam. Itu karena harus ganti angkot di pertengahan jalan. Ternyata ia kuliah di jurusan jurnalistik di Universitas Islam Bandung (Unisba). Lalu jadi wartawan di Bengkulu. Di perjalanan jalan tol ini saya baru tahu Kang Dadan lahir dan besar di Sumedang. 

Ia duduk di kursi belakang. Di sebelah tas saya. Sambil memandang Gunung Tampomas, ia menggumamkan sebuah lagu. Sepertinya lagu Sunda. “Lagu apa itu Kang?” tanya saya. “Lagu Sumedang”. “Apa judulnya?” Ia pun mencarikan link-nya di YouTube. Saya menghidupkan speaker kecil. Saya selalu membawa speaker kecil. Untuk jaga-jaga sound system di tempat senam rewel. Lagu itu pun saya keraskan lewat speaker. Judulnya Sumedang Kota Kamelang. 

Sulit mencari padanan kamelang dalam bahasa Indonesia. Mungkin mirip sumelang dalam bahasa Jawa. Semacam bisa bikin kangen sampai setengah mati. Itu menandakan orang Sumedang sangat lengket dengan daerahnya, tapi banyak yang harus ditinggal jauh demi penghidupan yang lebih baik. Kang Dadan meninggalkannya ke Bengkulu. Lalu ke Tasikmalaya. Ia tinggalkan Desa Serang, Cimalaka, dekat gunung Tampomas itu. Kami semua mendengarkan lagunya. 

Baca juga: Menjerit Lara

Mengikuti iramanya. Kang Dadan tiba-tiba terdiam. Saya menengok ke belakang. Matanya sembab. Berlinang-linang. Saya ikut bersedih. Mata saya ikut basah. Kang Dadan bertambah basahnya. Sampai sesenggukan. Saat itu lirik lagunya berbunyi Sumgkanmiang paturai kudu pa panggang. Berat untuk pergi jauh. Meski pun itu demi ibu Pertiwi. Saya biarkan lagunya sampai selesai. Biar dada Kang Dadan lega. Orang Sumedang memang harus merantau. Terutama ke Jakarta. 

Lebih terutama lagi ketika orang Sumedang bisa jadi gubernur DKI Jakarta hebat: Ali Sadikin. Begitu banyak orang Sumedang merantau ke Jakarta sampai ada bus khusus jurusan Sumedang-Jakarta. Sangat legendaris. Nama busnya Medal Sekarwangi. Sampai kini. Soal mengapa orang Sumedang harus merantau, itu karena Sumedang Ngarangrangan. Tidak banyak yang bisa diandalkan dari bumi Sumedang –selain manusianya. Sampai digambarkan sebagai Sumedang Ngarangrangan. 

Ibarat pohon daunnya meranggas. Tidak lagi sekarang, mestinya. Apalagi sudah ada jalan tol yang melintasi Sumedang. Tidak lagi terisolasi. Meski perusahaan bus Medal Sekarwangi berkembang pesat, tetap saja tidak ada MS jurusan Sumedang-Cirebon. Seperti dulu tidak adanya Jalan Siliwangi di Surabaya. Juga seperti tidak adanya Jalan Gadjah Mada di Bandung. Sumedang kehilangan tiga daerah akibat kalah perang di masa nan lalu. Tiga wilayah itu jatuh ke kerajaan Cirebon: 

Baca juga: Ilmu Fengsui

Cikedung (Al-Zaytun berada di sini), Majalengka, dan Kadipaten. Saya tidak banyak tahu sejarah di era itu di daerah itu. Legendanya mendarah mendaging. Ada versi Sumedang, ada versi Cirebon. Saya tidak ingin Kang Dadan bertengkar dengan Mas Yanto S. Utomo di mobil ini. Apalagi Kang Dadan lagi emosional: inilah kali pertama ia lewat tol di dekat tanah tumpah darahnya. Mas Yanto adalah dirut Radar Cirebon yang kini jadi dirut Disway.id. Lebih baik tidak usah berbantah. 

Masing-masing boleh bercerita bergantian. Toh perjalanan masih akan lama: ke Semarang. Maka keduanya bergantian bercerita soal perang itu. Meski berbeda versi keduanya sama-sama menyebut keterlibatan  wanita cantik sebagai penyebab perang itu. Gadis Madura. Namanya Arisbaya. Raja Cirebon dan Raja Sumedang rebutan Arisbaya. Awalnya Sumedang kuat menahan gempuran Cirebon. Sumedang terlindung oleh jejeran gunung yang sangat panjang. Sampai dinamakan Gunung Pagar.

Kalau Anda dari arah Jakarta ke Cirebon, perhatikan exit Sumber Jaya. Setelah Kertajati. Tengoklah ke kanan. Terlihat barisan gunung yang panjang. Itulah Gunung Pagar. Di situlah pusat pertempuran Sumedang-Cirebon. Kini gunung itu jadi pusat pertempuran ekskavator dan buldoser. Indocemen terus menggempur gunung itu dijadikan bahan bahan baku semen. Sumedang kalah. Kehilangan tiga daerah. Kalau saja provinsi Cirebon terbentuk, ketiganya masuk ke provinsi baru.

Baca juga: Ledakan Sitorus

Di Sumedang kini tinggal ada mahkota raja: emas. Kalau belum dipalsukan. Disimpan di museum kota itu. Saya sudah melihatnya, tapi tidak tahu palsu tidaknya. Di Sumedang juga masih ada peninggalan lain: kuda Renggong. Yakni kuda yang bisa menari-nari. Anak yang mau disunat biasanya diarak dengan kuda yang dihias bak pengantin. Juga masih ada peninggalan lagu kuno: Tarawangsa. Lagu melodi yang mistis. Karuhun. Masih dilestarikan di Desa Rancakalong.

Kini mudah ke desa itu. Lewat tol. Exit di Pamulihan. Kalau dari arah Bandung exit tersebut setelah exit Jatinangor. Persis sebelum  terowongan kembar. Sesekali Anda ke situ. Sekalian siapa tahu Anda ingin menyantet salah satu perusuh Disway. Jalan tol Cisumdawu mungkin akan mengubah semua itu. Termasuk mengubah adat ini: tiap bulan Maulud orang Sumedang  berduyun-duyun ke petilasan Mahapatih Jaya Perkasa di  Dayeuh Luhur, Cikoneng. 

Peziarah tidak boleh pakai baju batik. Itu dianggap berbau Cirebon. Sumedang sudah punya jalan tol. Akan membawa kemakmuran atau menambah perantauan. (Dahlan Iskan)

 

Tags: CisumdawuIndahjabarKertajatiPangkas JarakPUPRTerowongan Kembar

Berita Terkait

Bertansformasi, BTN Menjadi Bank Lebih Modern
Ekonomi

Bertansformasi, BTN Menjadi Bank Lebih Modern

2026/02/11
Simak! Ini Alasan Indonet Cabut dari Pasar Modal Indonesia
Ekonomi

Simak! Ini Alasan Indonet Cabut dari Pasar Modal Indonesia

2026/02/11
Maksimalkan Emas Pani, Merdeka Gold Eksekusi Transaksi Rp9,84 Triliun
Ekonomi

Maksimalkan Emas Pani, Merdeka Gold Eksekusi Transaksi Rp9,84 Triliun

2026/02/11
Memburuk, Fajar Surya Tekor Rp1,13 Triliun
Ekonomi

Memburuk, Fajar Surya Tekor Rp1,13 Triliun

2026/02/11
Kapok Rugi, Laba Latinusa Melangit 5.263 Persen
Ekonomi

Kapok Rugi, Laba Latinusa Melangit 5.263 Persen

2026/02/11
Genap Berusia 76 Tahun, Laba Bersih BTN Tembus Rp3,5 Triliun
Ekonomi

Genap Berusia 76 Tahun, Laba Bersih BTN Tembus Rp3,5 Triliun

2026/02/09

Populer

Simak! Ini Perbedaan kuliah Administrasi Perkantoran dan Administrasi Bisnis

Simak! Ini Perbedaan kuliah Administrasi Perkantoran dan Administrasi Bisnis

6 Januari 2022 15:59
Ade Jona Prasetyo

Sosok Ayah Inspirasi Ade Jona Prasetyo Raih Kesuksesan

25 Oktober 2021 13:24
Karnaval SCTV

Karnaval SCTV Digelar di Bogor, Catat Tanggal, dan Intip Para Bintangnya

15 Juli 2022 11:11
Lucy In The Sky

Kendalikan Lucy In The Sky, Ini Bisnis yang Digeluti Delta Wibawa Bersama

23 April 2022 13:27
Jumpa pers PT.HDI menyingkapi kasus hukum yang menimpa JE di kantor PT. HDI di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (8/7)I

Langgar Kode Etik, HDI Hentikan Keanggotaan JE

8 Juli 2022 19:10
we Tv (Foto : ist)

WeTV Rilis Fitur Sewa Konten WeTV Original

30 April 2022 00:16
istimewa

Dari Game Mobile Legend, Zeva Christian Buktikan Gen Z Bisa Hasilkan Cuan Miliaran

26 September 2023 16:27
Kertas Basuki Rachmat

Kejagung Sita Aset Kertas Basuki Rachmat Indonesia, Ini Penjelasan Manajemen 

22 Maret 2022 12:00
King Kevin, Sosok di Balik Suksesnya Planet Gadget yang Suka Bikin Konten Motivasi di Tiktok

King Kevin, Sosok di Balik Suksesnya Planet Gadget yang Suka Bikin Konten Motivasi di Tiktok

2 Desember 2022 15:06
Allo Bank

Gemar Transaksi, Ali Gunawan Koleksi 7,95 Juta Saham Bank Milik Chairul Tanjung

2 Februari 2022 18:27

Pilihan Redaksi

God Bless

Konser Online Berbayar “48 tahun God Bless ” jadi Semangat Industri Musik

2 September 2021 01:12
Ngeri! Laba Adhi Karya Melorot 94 Persen

Ngeri! Laba Adhi Karya Melorot 94 Persen

23 Oktober 2025 19:27
Zebra Nusantara

Borong Terus Saham Zebra Nusantara, Rudy Tanoesoedibjo Berdalih Gini

6 September 2021 14:06
Pengisi suara pertama Nobita versi Jepang Yoshiko Ohta meninggal dunia (indoposnews.co.id/Instagram/noticiasanimeenespanol)

Pengisi Suara Nobita Yoshiko Ohta Meninggal Dunia

13 November 2021 12:17
Kasus Jiwasraya

Kejagung Kembali Rampas 917,89 Juta Saham Tersangka Jiwasraya 

25 November 2022 18:27
Ledakan Sitorus

Ledakan Sitorus

22 Juli 2023 05:27
film Dune

Film Dune: Part Dua Mulai Produksi

19 Juli 2022 10:36
Sidomulyo Selaras

Bebas Hukum, Pengendali Ini Borong 76,95 Juta Saham Sidomulyo Selaras 

24 Maret 2022 08:00
Selisih Kurs Tekor 241 Persen, Pengelola Kokas Raih Laba Rp846 Miliar  

Selisih Kurs Tekor 241 Persen, Pengelola Kokas Raih Laba Rp846 Miliar  

30 Juli 2024 18:27
Indah Kiat

Modal Kuat, Obligasi Indah Kiat Pulp and Paper Sandang Rating idA+

19 Oktober 2021 23:57

About

indoposnews.co.id

“Berita Terbaru Indonesia”
Alamat :
Grand Slipi Tower, Lantai 9 Unit O, Jalan Jend. S. Parman Kav 22-24, Jakarta Barat, DKI Jakarta.
Telepon : 02174773761
Email : redaksiindoposnews@gmail.com

Follow us

Alamat : Grand Slipi Tower, Lantai 9 Unit O, Jalan Jend. S. Parman Kav 22-24, Jakarta Barat, DKI Jakarta. Telepon : 02174773761 Email : redaksiindoposnews@gmail.com

No Result
View All Result
  • Home
  • NEWS
    • Nasional
    • Politik
    • Nusantara
    • Hukum
    • Ibu Kota Negara
    • COVID-19 UPDATE
  • Ekonomi
    • Tekno
  • Olahraga
  • JABODETABEK
  • Gaya Hidup
    • Fashion
    • Beauty
    • Health & Fitness
    • Hunian
    • Jalan- Jalan
    • Kids
    • Kuliner
    • Pendidikan
    • Otomotif
  • HIBURAN
    • selebritis
    • Musik
    • Film
      • Review Film
    • Televisi
    • Mancanegara
    • Bollywood
    • K – pop
    • Budaya
  • Opini
  • Indeks

Alamat : Grand Slipi Tower, Lantai 9 Unit O, Jalan Jend. S. Parman Kav 22-24, Jakarta Barat, DKI Jakarta. Telepon : 02174773761 Email : redaksiindoposnews@gmail.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
indoposnews.co.idLogo Header Menu