indoposnews.co.id – Industri pasar modal nasional mengalami goncangan hebat. Itu dipicu pembekuan rebalancing indeks lokal oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Bola lambung MSCI itu, berujung trading halt dua kali beruntun setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pendarahan tidak ringan.
Sebagai tanggung jawab moral atas keruntuhan indeks itu, pentolan Bursa Efek Indonesia (BEI) memakzulkan diri. Mundur teratur dengan asa pasar saham kembali beredar pada sirkuit yang benar. Keputusan mendadak direktur utama (Dirut) BEI Iman Rahman tersebut, sempat mengagetkan para selaku pasar meski indeks berujung di zona hijau.
Belum reda tanda tanya pasar, gempa dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghentak. Para pendekar wasit pasar modal dan jasa keuangan itu resign berjemaah. Yaitu, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (KE PMDK) Inarno Djajadi.
Baca juga: MSCI Makan Tumbal, Bos BEI Mundur Teratur
Lalu, Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (DKTK) I.B. Aditya Jayaantara, dan terakhir Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara mengumumkan undur diri dari badan pengawas industri keuangan RI tersebut.
Merespons huru-hara market dan industri keuangan itu, pemerintah melalui kementerian koordinator (Kemenko) perekonomian bergerak taktis. Itu dilakukan dengan menunjuk Penjabat Sementara (Pjs) pimpinan OJK dan BEI untuk memastikan stabilitas sektor keuangan.
Kemenko Perekonomian menunjuk Friderica Widyasari Dewi (Kiki) sebagai Pjs Ketua sekaligus Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK. Saat ini, Kiki mengemban tugas utama sebagai KE Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen.
Baca juga: BTN Expo 2026, BTN Perkuat Peran Sebagai Bank Modern
Kemudian, Kemenko Perekonomian menunjuk Hasan Fawzi sebagai Pjs Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Derivatif, dan Bursa Karbon, merangkap jabatan aslinya sebagai KE Pengawas Inovasi Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto (IAKD).
Kiki, dan Hasan bukan orang baru di lingkungan pasar modal. Kiki dan Hasan pernah menduduki posisi sebagai direksi baik di BEI, KSEI, dan KPEI. Di sisi lain, Jeffrey Hendrik mengampu Pjs direktur utama BEI. Saat ini, Jeffrey berposisi sebagai direktur pengembangan operator pasar modal indonesia.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan pemerintah tidak akan menoleransi praktik manipulasi pasar yang merusak kredibilitas sistem keuangan Indonesia. Selanjutnya, OJK, dan self regulatori organization (SRO) terdiri dari BEI, KSEI, dan KPEI menjalankan sejumlah komitmen.
Baca juga: Prajogo Pangestu Turun Gunung, Saham CUAN Tancap Gas
Kenaikan Free Float berupa peningkatan ambang batas saham publik minimal menjadi 15 persen dari saat ini 7,5 persen untuk meningkatkan likuiditas. Kemudian, transparansi kepemilikan, dengan pengetatan aturan Ultimate Beneficial Ownership (UBO), dan afiliasi pemegang saham.
Selanjutnya, penegakan hukum masif. Di mana, OJK bersama aparat penegak hukum akan melakukan penyelidikan besar-besaran terhadap praktik manipulasi pasar, dan pengawasan ketat terhadap influencer saham. Terakhir, demutualisasi bursa. Caranya dengan mengubah struktur kelembagaan bursa untuk mengurangi konflik kepentingan, dan memperluas kepemilikan. (abg)


























