• Redaksi
Kamis, April 30, 2026
indoposnews.co.id
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • NEWS
    • Nasional
    • Politik
    • Nusantara
    • Hukum
    • Ibu Kota Negara
    • COVID-19 UPDATE
  • Ekonomi
    • Tekno
  • Olahraga
  • JABODETABEK
  • Gaya Hidup
    • Fashion
    • Beauty
    • Health & Fitness
    • Hunian
    • Jalan- Jalan
    • Kids
    • Kuliner
    • Pendidikan
    • Otomotif
  • HIBURAN
    • selebritis
    • Musik
    • Film
      • Review Film
    • Televisi
    • Mancanegara
    • Bollywood
    • K – pop
    • Budaya
  • Opini
  • Indeks
  • Home
  • NEWS
    • Nasional
    • Politik
    • Nusantara
    • Hukum
    • Ibu Kota Negara
    • COVID-19 UPDATE
  • Ekonomi
    • Tekno
  • Olahraga
  • JABODETABEK
  • Gaya Hidup
    • Fashion
    • Beauty
    • Health & Fitness
    • Hunian
    • Jalan- Jalan
    • Kids
    • Kuliner
    • Pendidikan
    • Otomotif
  • HIBURAN
    • selebritis
    • Musik
    • Film
      • Review Film
    • Televisi
    • Mancanegara
    • Bollywood
    • K – pop
    • Budaya
  • Opini
  • Indeks
No Result
View All Result
indoposnews.co.id
No Result
View All Result
Home Headline Utama

Bawang Yawuyoko

abu by abu
30 Oktober 2022 05:27
Pemuda Disway

Dahlan Iskan bersama bersama pemuda Disway. FOTO - ISTIMEWA

Share on FacebookShare on Twitter

indoposnews.co.id – TERBAYAR kemarin. Kangen saya ke Wamena. Anak Wamena itu ke Jakarta. Sudah tambah dewasa. Sudah menjadi pemuda Disway. Lima tahun tidak bertemu dengannya. Dulu ia sekolah di Parung, Bogor, lalu kuliah di Pamulang, Jakarta. Ia sudah sarjana teknik informatika.

Ketika pulang ke Wamena. Ibunya sakit. Dia janda. Sejak pemuda Disway itu berumur 3 tahun. Ia harus menemani ibunya. Tiga tahun kemudian ibunya meninggal dunia. “Sekarang di Wamena kerja apa?” tanya saya. “Mencangkul,” jawabnya. Saya kaget. Tapi senang juga. Pribadinya begitu kuat. Ia tidak canggung tetap bertangan kotor meski sudah menjadi sarjana di Jakarta.

Ia memang mewarisi tanah ladang dari ayahnya. Di pegunungan Jayawijaya. Seluas sekitar 1 hektare. Letaknya di celah gunung, di pedesaan, sekitar 1,5 jam naik sepeda motor dari Kota Wamena. Sangat di pedalaman Papua. Saya pernah ke area desa itu 10 tahun lalu. “Sekarang menanam apa?” tanya saya. “Tanam bawang,” jawabnya. “Bawang merah?” “Daun bawang. Yang kami panen daunnya. Dijual ke pedagang. Dibawa ke luar daerah,” jawabnya.

Baca Juga

BNI Perkuat Keterbukaan Informasi, Lindungi Diaspora Hong Kong dari Kejahatan Keuangan

Kementerian Desa Perkuat Kolaborasi CSR Bersama ISSF untuk Percepatan Pembangunan Desa

Solutif, eufy Hadirkan Pompa ASI Handsfree dengan Teknologi HeatFlow™

Bank CIMB Niaga Salurkan Dividen Rp4,06 Triliun, Cair 13 Mei

Baca juga: Pembaca Disway : Entahlan

Meski kerja di ladang kulitnya tidak lebih hitam dan rambutnya tidak lebih lurus. Wajahnya tetap wajah cendekia seperti umumnya orang Papua dari Wamena. Bicaranya lirih, tutur katanya lembut, tangannya terus seperti ngapurancang dan sesekali tersenyum. Ia lebih lembut dari orang Jawa masa kini. Tanah 1 hektare itu digarap sendirian tanpa alat mekanis seperti traktor. 

Ups, tidak sendirian. Ia dibantu sejumlah orang di kampungnya. Dibantu. Bantu tenaga. Untuk mencangkul. Bentuk cangkul di Wamena seperti skop. Gagangnya panjang sekali. Mereka mencangkul sambil berdiri tegak. Skopnya yang dihunjamkan ke tanah. Lalu diungkit. Setiap tiba saatnya mengolah tanah pemuda Disway ini keliling ke rumah-rumah tetangga. Ia minta bantuan tenaga untuk mencangkul. Saat itu juga tetangga menjawab: bisa atau tidak. Umumnya bisa.

Kalau sudah mendapat 10 kesanggupan ia tidak minta yang lain lagi. Cukup. Keesokan harinya 10 orang itu turun ke ladang milik pemuda Disway itu. Mereka ramai-ramai mencangkul. Sampai tuntas. Kalau hari itu tidak selesai dilanjutkan keesokan harinya. Tidak lebih dua hari. Pemuda Disway itu juga sering didatangi tetangga. Untuk dimintai tolong mencangkul di tanah tetangga. Ia juga selalu menyediakan diri untuk itu.

Baca juga: Harian Disway Adakan Donor Konvalesen

Tidak ada upah yang harus dibayarkan. Cukup diberi minum, dan makan siang. Minumnya pun cukup air putih. Diambil dari sungai terdekat. Tidak perlu direbus. Untuk makan siang mereka disediakan ubi. Bukan ubi jalar atau singkong. Ubi Jayawijaya. Orang di Jakarta menyebutnya talas. Di Wamena disebut hepuru atau hepiri. Talas Wamena enaknya luar biasa. Saya suka kangen talas Jayawijaya.

Kerja tanpa upah di tanah tetangga sebelah seperti itu sudah berlangsung turun-temurun. Tidak ada perasaan apa pun di antara mereka kecuali hidup harus saling membantu. Gotong royong yang asli justru masih hidup di Wamena. Di sana tidak disebut gotong royong. Mereka menyebutnya yawuyoko. “Sampai kapan yawuyoko akan bertahan? Sampai traktor masuk Wamena?” tanya saya. 

Saya membayangkan kalau suatu saat traktor masuk ke lahan perladangan Jayawijaya polusi pun merambat ke sana. Juga suara bising. Pegunungan sejuk nan damai itu pun terusik. “Rasanya yawuyoko akan langgeng. Sampai orang Papua hilang” katanya. Pemuda Disway itu dulu hanya menanam ubi atau kol. Ia baru mulai menanam bawang dua tahun lalu, 2020. “Saya mendapat pengetahuan dari orang Jatim. Pak Sumadi. Guru SD,” ujarnya.

Baca juga: Saham Sedekah

Daun bawang itu sudah bisa dipanen di umur 3 minggu. “Kabarnya untuk dikirim ke Timika. Untuk masakan karyawan di Freeport,” ujar pemuda Disway itu. Kini banyak petani sekitarnya ikut menanam bawang. Selebihnya masih menanam hepuru. Atau kol. Atau selada. Bayam. Dan hortikultura lainnya. Sejak pulang ke Wamena ia sudah enam kali panen daun bawang. “Mohon doa restu kami lagi bangun rumah di kota Wamena,” ujarnya. Ia sudah membeli tanah 22 x 22 meter di kota. Bangun rumah dari bata.

“Dari hasil pertanian?” tanya saya. “Iya….,” katanya lirih, lantas tersenyum menunduk. “Sampai kapan tanam bawang?” “Sampai tidak laku lagi,” katanya. Habis menanam bawang ini ia akan menanam bawang lagi. Dan lagi. Dan lagi. Di sekeliling bawang itu ia tetap menanam hepuru. Itu bahan makanan pokok di sana. Tidak boleh tidak punya hepuru. “Kalau persediaan beras di rumah akan habis kita tidak punya rasa waswas. Tapi kalau hepuru akan habis kita cemas,” katanya.

Ia dan umumnya orang Wamena, lebih memilih makan hepuru daripada nasi. Nasi hanya dimakan sesekali. Siang hari. Pagi dan malam lebih enak makan hepuru. Terutama makan malam. Tanpa lauk apa pun. Bagaimana bisa; habis tanam bawang tanam bawang lagi? Sampai enam kali berturut-turut? Dan masih akan bawang lagi? Tidakkah hasilnya kian menurun? “Hasilnya tetap sama. Tidak ada penurunan,” katanya.

Baca juga: Kongres Dawet

“Diberi pupuk apa?” tanya saya. “Tidak diberi pupuk apa-apa,” katanya. “Tidak ada yang jual pupuk di Wamena,” tambahnya. “Diberi pupuk kotoran hewan?” tanya saya lagi. “Juga tidak”. Itulah tanah Wamena. Tanah Jayawijaya. Yang umumnya di ketinggian 3.000 meter di atas permukaan laut. Atau lebih tinggi lagi. Petaninya tidak mengenal pupuk. Tidak ada yang jual pupuk. Tanamannya tetap tumbuh subur. Juga tidak ada saluran irigasi. Curah hujan cukup sekali. Sepanjang tidak ada perubahan iklim. 

Mungkin sampai traktor masuk Wamena. Atau mobil bensin kian banyak di sana. Tambah lagi pembangkit listrik fosil. Maka baiknya mobil listrik dimulai dari Wamena. Sekalian sepeda motornya. Tidak boleh lagi ada penjualan mobil dan motor bensin di sana. Mumpung listriknya juga dari tenaga air. Kalau kelak tidak lagi cukup masih bisa membendung sungai Wamena. Bisa menghasilkan listrik sebesar berapa mega pun pun. Cukup untuk 9 kabupaten di Jayawijaya. Lebih satu jam saya ngobrol asyik dengannya.

Pemuda Disway itu pamit. Senin besok mau kembali ke Wamena. Lewat Jayapura. Namanya: Faruq Aten Asso. Umur 27 tahun. Ia Islam sejak lahir, di pegunungan Jayawijaya. Demikian juga kakak perempuan dan adik laki-lakinya. SD-nya pun di madrasah ibtidaiah di kampung itu. Lalu dapat beasiswa ke pesantren di Parung. Dari Parung ia kuliah di UIN Syarif Hidayatullah. Tidak tamat. Lalu menyelesaikan kuliah di universitas swasta dengan mahasiswa terbesar di Indonesia: Universitas Pamulang.

Baca juga: Karakter Kepercayaan

Di Jayawijaya ia punya masjid. Kalau Jumat ia yang berkhotbah. Waktu peringatan Maulid Nabi dua minggu lalu ia menyelenggarakan acara adat setempat: bakar batu. Di sana, acara bakar batu sangat spesial. Natal bakar batu. Kematian, bakar batu. Perkawinan bakar batu. Iduladha bakar batu. Ada yang untuk ulang tahun pun bakar batu. Saya pernah disambut acara bakar batu di sana. Orang sekampung berkumpul. Di tanah ladang yang lapang. Tanpa peduli agamanya apa. 

Yang penting sama-sama berkulit hitam dan berambut keriting. Pun kalau ada pendatang. Yawuyoko lebih penting dari perbedaan keyakinan. Mereka saling bantu. Upacara bakar batu tidak bisa dilakukan sendirian. Harus orang banyak. Pekerjaan pertama: menggali tanah. Bikin kubangan. Cukup dalam. Lebih 1 meter. Lalu mengumpulkan kayu kering. Bahan bakar itu ditumpuk di bagian paling bawah kubangan. Di atas hamparan tumpukan kayu bakar itu ditumpuki batu. Berlapis. 

Sampai rapat. Kayu pun dibakar. Sampai batunya berwarna merah –saking panasnya. Di atas batu panas itulah daging di-jejer-jejer. Lalu ditimbun alang-alang. Tebal. Barulah ditutup dengan tanah. Setengah jam kemudian tanah penutup disingkirkan. Alang-alang setengah terbakar disibak. Terlihatlah daging yang sudah masak. Siapa saja boleh ambil daging itu. Dimakan. Sambil duduk di atas rumput. Atau sambil berdiri. Terserah saja. Rasanya luar biasa.

Baca juga: Semen Drum 

Steak paling enak di Texas pun kalah. Daging panas. Dimakan di udara yang sangat sejuk. Ketika tambah lagi pun dagingnya masih panas. Bakar batu yang asli adalah babi. Utuh. Beberapa ekor sekaligus. Tapi di kampung Faruq bakar batunya pakai sapi, domba, atau ayam. “Waktu Maulid Nabi yang lalu kami masukkan 300 ekor ayam ke lubang bakar batu,” ujarnya.

Pernah juga seekor sapi. Dalam satu lubang. Sapinya sudah dipotong-potong. Rasanya, steak paling enak di Texas pun kalah. Kadang ubi hapuru atau talas itu ikut dimasukkan ke dalam kubangan. Ikut dimasak. Dimakan bersama daging. Duh, upacara bakar batu itu, meriah, rukun, bahagia, dan lezatnya luar biasa. (Dahlan Iskan)

 

Tags: bawangBertanidahlan iskanHarian DiswayPemuda DiswayWamenaYawuyoko

Berita Terkait

BNI Perkuat Keterbukaan Informasi, Lindungi Diaspora Hong Kong dari Kejahatan Keuangan
Ekonomi

BNI Perkuat Keterbukaan Informasi, Lindungi Diaspora Hong Kong dari Kejahatan Keuangan

2026/04/30
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi bersama ISSF menggelar kegiatan CSR (Istimewa )
Nasional

Kementerian Desa Perkuat Kolaborasi CSR Bersama ISSF untuk Percepatan Pembangunan Desa

2026/04/22
Solutif, eufy Hadirkan Pompa ASI Handsfree dengan Teknologi HeatFlow™
Ekonomi

Solutif, eufy Hadirkan Pompa ASI Handsfree dengan Teknologi HeatFlow™

2026/04/21
Bank CIMB Niaga Salurkan Dividen Rp4,06 Triliun, Cair 13 Mei
Ekonomi

Bank CIMB Niaga Salurkan Dividen Rp4,06 Triliun, Cair 13 Mei

2026/04/18
Navigasi Pasar, Sucor Sekuritas Hadirkan Stock Idea Festival 2026
Ekonomi

Navigasi Pasar, Sucor Sekuritas Hadirkan Stock Idea Festival 2026

2026/04/12
Jumbo! BRI Obral Dividen Rp52,1 Triliun
Ekonomi

Jumbo! BRI Obral Dividen Rp52,1 Triliun

2026/04/10

Populer

Simak! Ini Perbedaan kuliah Administrasi Perkantoran dan Administrasi Bisnis

Simak! Ini Perbedaan kuliah Administrasi Perkantoran dan Administrasi Bisnis

6 Januari 2022 15:59
Ade Jona Prasetyo

Sosok Ayah Inspirasi Ade Jona Prasetyo Raih Kesuksesan

25 Oktober 2021 13:24
Karnaval SCTV

Karnaval SCTV Digelar di Bogor, Catat Tanggal, dan Intip Para Bintangnya

15 Juli 2022 11:11
Lucy In The Sky

Kendalikan Lucy In The Sky, Ini Bisnis yang Digeluti Delta Wibawa Bersama

23 April 2022 13:27
Jumpa pers PT.HDI menyingkapi kasus hukum yang menimpa JE di kantor PT. HDI di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (8/7)I

Langgar Kode Etik, HDI Hentikan Keanggotaan JE

8 Juli 2022 19:10
we Tv (Foto : ist)

WeTV Rilis Fitur Sewa Konten WeTV Original

30 April 2022 00:16
istimewa

Dari Game Mobile Legend, Zeva Christian Buktikan Gen Z Bisa Hasilkan Cuan Miliaran

26 September 2023 16:27
Kertas Basuki Rachmat

Kejagung Sita Aset Kertas Basuki Rachmat Indonesia, Ini Penjelasan Manajemen 

22 Maret 2022 12:00
King Kevin, Sosok di Balik Suksesnya Planet Gadget yang Suka Bikin Konten Motivasi di Tiktok

King Kevin, Sosok di Balik Suksesnya Planet Gadget yang Suka Bikin Konten Motivasi di Tiktok

2 Desember 2022 15:06
HOTS Championship

Waw, Transaksi HOTS Championship Season IV Mirae Asset Sekuritas Rp19 Triliun

7 Juli 2021 21:36 - Updated on 8 Juli 2021 19:40

Pilihan Redaksi

kemendagri-indoposnews

Kemendagri Dorong Industri Halal Indonesia Bisa Mendunia

15 April 2022 19:51
IHSG

Market Fluktuatif, Ini Saham Jagoan Reliance Sekuritas

23 Desember 2021 07:27
Laba Susut, Kalbe Farma Gelontor Dividen Rp1,43 Triliun

Laba Susut, Kalbe Farma Gelontor Dividen Rp1,43 Triliun

16 Mei 2024 15:06
Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah

Wali Kota Tangerang Copot Oknum Lurah Paninggilan Utara

6 Agustus 2021 17:01
MNC Land

Bereskan Private Placement, MNC Land Raup Dana Rp806,25 Miliar

10 Juni 2022 16:27
blackpink

BLACKPINK The Movie Tayang di Bioskop CGV

13 Oktober 2021 16:30
Poster serial terbatas "Yang Hilang Dalam Cinta" (2022).

Sheila Dara, Dion Wiyoko, dan Reza Rahardian Beradu Peran

8 Juli 2022 10:43
PAM Minerals

Biayai Akuisisi SMA dengan Dana Hasil Waran, Ini Penjelasan PAM Mineral

10 Oktober 2023 10:27
Pebalap Ducati Francesco Bagnaia asal Italia saat menjalani sesi latihan ketiga French Moto GP Grand Prix di Le Mans, Prancis (15/5/2021). ANTARA/AFP/Jean-Francois Monier)/aa. (AFP/JEAN-FRANCOIS MONIER)

Bagnaia Tebus Kesalahan di GP Catalunya

2 Juni 2021 23:49
BFI Finance Obral Dividen Rp878 Miliar, Telisik Jadwalnya

BFI Finance Obral Dividen Rp878 Miliar, Telisik Jadwalnya

28 Mei 2024 08:27

About

indoposnews.co.id

“Berita Terbaru Indonesia”
Alamat :
Grand Slipi Tower, Lantai 9 Unit O, Jalan Jend. S. Parman Kav 22-24, Jakarta Barat, DKI Jakarta.
Telepon : 02174773761
Email : redaksiindoposnews@gmail.com

Follow us

Alamat : Grand Slipi Tower, Lantai 9 Unit O, Jalan Jend. S. Parman Kav 22-24, Jakarta Barat, DKI Jakarta. Telepon : 02174773761 Email : redaksiindoposnews@gmail.com

No Result
View All Result
  • Home
  • NEWS
    • Nasional
    • Politik
    • Nusantara
    • Hukum
    • Ibu Kota Negara
    • COVID-19 UPDATE
  • Ekonomi
    • Tekno
  • Olahraga
  • JABODETABEK
  • Gaya Hidup
    • Fashion
    • Beauty
    • Health & Fitness
    • Hunian
    • Jalan- Jalan
    • Kids
    • Kuliner
    • Pendidikan
    • Otomotif
  • HIBURAN
    • selebritis
    • Musik
    • Film
      • Review Film
    • Televisi
    • Mancanegara
    • Bollywood
    • K – pop
    • Budaya
  • Opini
  • Indeks

Alamat : Grand Slipi Tower, Lantai 9 Unit O, Jalan Jend. S. Parman Kav 22-24, Jakarta Barat, DKI Jakarta. Telepon : 02174773761 Email : redaksiindoposnews@gmail.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
indoposnews.co.idLogo Header Menu