• Redaksi
Kamis, Oktober 22, 2026
indoposnews.co.id
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • NEWS
    • Nasional
    • Politik
    • Nusantara
    • Hukum
    • Ibu Kota Negara
    • COVID-19 UPDATE
  • Ekonomi
    • Tekno
  • Olahraga
  • JABODETABEK
  • Gaya Hidup
    • Fashion
    • Beauty
    • Health & Fitness
    • Hunian
    • Jalan- Jalan
    • Kids
    • Kuliner
    • Pendidikan
    • Otomotif
  • HIBURAN
    • selebritis
    • Musik
    • Film
      • Review Film
    • Televisi
    • Mancanegara
    • Bollywood
    • K – pop
    • Budaya
  • Opini
  • Indeks
  • Home
  • NEWS
    • Nasional
    • Politik
    • Nusantara
    • Hukum
    • Ibu Kota Negara
    • COVID-19 UPDATE
  • Ekonomi
    • Tekno
  • Olahraga
  • JABODETABEK
  • Gaya Hidup
    • Fashion
    • Beauty
    • Health & Fitness
    • Hunian
    • Jalan- Jalan
    • Kids
    • Kuliner
    • Pendidikan
    • Otomotif
  • HIBURAN
    • selebritis
    • Musik
    • Film
      • Review Film
    • Televisi
    • Mancanegara
    • Bollywood
    • K – pop
    • Budaya
  • Opini
  • Indeks
No Result
View All Result
indoposnews.co.id
No Result
View All Result
Home Headline Utama

Globalisasi Nasi Bungkus

abu by abu
28 Juni 2023 05:27
Globalisasi Nasi Bungkus

William Wongso kala beradu dengan Gordon Ramsay. FOTO - ISTIMEWA

Share on FacebookShare on Twitter

indoposnews.co.id – SAYA bermalam di Dago Atas, Sabtu malam lalu. Di Bandung. Di rumah seorang teman. Pemilik rumahnya berulang tahun. Saya lebih banyak ngobrol dengan salah seorang tamunya daripada dengan empunya hajat. Tamu itu William Wongso. Juga tidur di situ. Anda sudah tahu siapa William: guru besar kuliner Indonesia. Yang dibicarakan: makanan enak. Hanya dibicarakan. Itu saja rasanya sudah kenyang. Sebentar-sebentar William telepon jarak jauh: Sydney, Australia. 

Ia lagi jadi ”penasihat” satu restoran baru di sana: jualan nasi bungkus. Gaya warteg. Laris sekali. Segera bikin cabang di Melbourne. Nama restoran itu: Garam Merica. Identitas yang ditonjolkan: nasi bungkus. Warteg. Tidak ada identitas yang ditulis dalam bahasa Inggris. “Apakah orang di sana tidak bingung?” tanya saya. “Kalau Pak Dahlan baca kata Sushi atau Pho apakah masih perlu identitas lain?” jawabnya. Betul. Sushi sudah begitu identik dengan makanan Jepang. 

Seperti pho dari Vietnam. Maka William ingin kata ”nasi bungkus” bisa setara dengan sushi atau pho. Tanpa dijelaskan pun orang harus tahu kalau itu makanan Indonesia dengan gaya Prancis, ups gaya Indonesia: nasi campur. Rijsttafel. Seperti juga sushi, pada dasarnya sushi itu kan juga nasi campur. Ada nasi. Ada lauk di dalamnya. Gayanya saja beda: nasinya digulung, lauknya di bagian paling dalam. Lalu dibungkus. Bungkusnya saja yang beda: rumput laut. 

Baca Juga

Kampanye Telur Baik dari ICFA Sapa Pengunjung PIM 5

Transformasi Underwriting Berbasis Data

Anker eufy Breast Pump S1 Pro Cocok untuk Ibu Aktif

Jin Jiang Hotels Akselerasi Ekspansi ASEAN

Baca juga: Tentara Makan Tuan

Walhasil sushi itu nasi campur dan nasi bungkus juga. Kalau mau dibuat dalam bahasa Inggris bisa saja nasi bungkus di Garam Merica ini, kata William,  dijual dengan istilah Barat:  Indonesian Rijsttafel. Dengan kata Rijsttafel orang bisa langsung tahu bahwa itu gaya penyajian masakan Prancis. Toh isinya sama: nasi campur. Tapi William mau khas Indonesia. Aslinya. Sekalian ekspor budayanya. Sebenarnya bukan itu benar yang membuat ide nasi bungkus lahir di Sydney. 

Lebih tepatnya: karena kepepet. Proses membuat masakan Indonesia itu ruwet. Jatuhnya mahal. Tenaga kerja mahal. Sewa tempat mahal. Maka harus dicari cara agar bisnis bisa jalan. Harus dibuat sederhana. Maka gaya nasi bungkus adalah jalan keluarnya. Pengunjung resto warteg di Sydney ini tinggal pilih. Nasi dengan dua lauk atau tiga lauk. Ada daftar lauk di menu. Ada pilihan kelompok daging. Ada pilihan kelompok sayur. Semua menu ada di layar elektronik. Tinggal klik yang dipilih. 

Layar itu terhubung ke dapur. Untuk dibuatkan nasi bungkusnya. Lalu diikat dengan karet gelang. Bungkusnya sama dengan di warteg. Bagian dalamnya daun pisang. Luarnya kertas cokelat yang di-coating itu. Nasi bungkus itu lantas ditaruh di piring sekali pakai. Selesai makan tinggal buang ke tempat sampah. Praktis. Murah. Khas Indonesia. Dari mana dapat daun pisang? “Dari Vietnam. Harganya lebih murah,” ujar William. Daun pisang itu dijual di Australia. 

Baca juga: Bulan Bung Kusno 

Sudah dipotong-potong menjadi segi empat. Rasanya, itu bukan soal murah, dan mahal. Itu sepenuhnya soal penguasaan jaringan distribusi. Masakan Vietnam sudah begitu memasyarakat di Australia. Jaringan distribusinya terbentuk dengan sempurna. Daun pisang itu tinggal numpang saja di jaringan yang sudah terbentuk. Jaringan masakan Indonesia itu belum terbentuk. Harus ada pemicunya. Pemicu masakan Vietnam adalah perang Vietnam. 

Yang membuat begitu banyak pengungsi Vietnam di mana-mana. Sekalian membawa budaya mereka. Termasuk makanannya. Tapi Thailand tidak pernah perang. Tidak punya pengungsi. Toh tomyamkum dan pad thai ada di mana-mana. Itu karena Thailand pernah punya perdana menteri bernama Thaksin Shinawatra. Yang pemerintahnya punya program menduniakan masakan Thailand. Tentu juga karena begitu banyak turis asing ke Thailand. 

Mereka bersinggungan dengan masakan setempat. Lalu menyebar. “Kita ini tidak boleh hanya ekspor makanan. Juga harus ekspor budaya,” ujar William. Ia ingat betapa Tiongkok juga gigih ekspor budaya makanan China. Yakni bagaimana makan pakai sumpit. Sampai Deng Xiaoping secara demonstratif mengajari Presiden Amerika Serikat Richard Nixon cara memakai sumpit. Dulu, di Barat, makan pakai sumpit dianggap memalukan. Tidak berbudaya. Rendahan.

Baca juga: Gratis! Mau Nyoba? 

Sampai-sampai Tionghoa golongan Holland spreken merendahkan sesama Tionghoa yang masih makan pakai sumpit. Dunia dibuat berubah. Maka kini orang Amerika banyak mencoba pakai sumpit: sebagai kebanggaan. William ingin budaya makan pakai tangan juga harus diekspor. Kelak harus ke sana. Ini soal budaya. Bukan rendah atau tinggi. Rasanya Presiden Jokowi sudah pernah mengajari Xi Jinping makan pakai tangan. Waktu makan bebek khas di Bali. 

Anda tahu itu? Kalau belum banyak yang tahu rasanya Presiden Jokowi perlu mengajari Xi Jinping sekali lagi makan pakai tangan. Kesempatan itu ada. Yakni saat peresmian kereta cepat Ya-Wan Agustus nanti: makan pakai tangan. Jangan lupa sediakan wijik atau kobokan. Kalau perlu sajian nasinya pun nasi bungkus. Sama dengan Deng Xiaoping mengajari Nixon makan mie pakai sumpit. Toh waktu itu Tiongkok masih miskin sekali. Harga nasi bungkus Sydney itu AUD19 alias setara Rp200 ribu. 

Tapi di Australia AUD19 itu serasa Rp7.500 karena UMR di sana AUD23 per jam kerja. Budaya nasi bungkus sebenarnya sangat dalam. Yang juga disebut nasi campur. Lalu mulai terkikis oleh yang serba impor. Nasi bungkus di pinggir jalan Gubeng Surabaya itu misalnya luar biasa enaknya. Lauknya hanya tiga: mie beberapa helai, telur seiris, kering tempe, dan sambal. Begitu sederhana. Kalau mau tambah, tinggal ambil satu bungkus lagi.

Baca juga: Cingbing Gusdurian

Jangan-jangan nasi bungkus seperti di Sydney itu yang bisa diinternasionalkan lebih dulu. Zaman menteri Mari Elka Pangestu sempat dirumuskan strategi: fokus dulu ke tiga masakan Indonesia: rendang, nasi goreng, dan gado-gado. Tiga itu yang didorong habis-habisan secara internasional. Dengan demikian masakan Indonesia cepat dikenal di mana-mana. Belum terlihat hasilnya. Indonesia ini punya terlalu banyak jenis makanan. Terlalu. Banyak. 

Akibatnya sulit merumuskan strategi internasionalisasi masakan Indonesia. Vietnam hanya fokus ke pho dan spring roll. Hanya dua jenis itu. Thailand hanya fokus di tomyamkum dan pad thai. Yang lainnya bisa disusulkan belakangan. Awalnya William memilih rendang sebagai jagoan internasional. Ia sudah melakukan tes di Jerman. Mereka ketagihan. “Yang khas dari rendang adalah rasa yang timbul dari gosongnya santan,” ujarnya.

Baca juga: Tol Mahakarya

Untuk bisa mencapai rendang setingkat itu membuatnya sangat sulit. Rumit. Lama. Berjam-jam. Untuk bisa menduniakan rendang, katanya, harus ada revolusi pemikiran: ekspor bumbu rendang. Memang kita bisa bikin rendang di luar negeri. Bahan bahan bumbunya ada. Bisa dibeli di sana. Tapi rasa tidak akan bisa sama. Laosnya (lengkuas) beda. Bawang merahnya beda. Mereka hanya jual bawang merah yang besar-besar. Maka bumbu harus dibuat di Indonesia. Diekspor. 

Santannya boleh beli di sana. Toh dari Indonesia juga. “Barulah rasa rendangnya khas Sumatera Barat,” ujar William. William orang Malang. Sekolah SMA-nya di Hua Ing. Lalu mendalami kuliner. Ia dianggap salah satu ahli rendang. “Di Sumatera Barat itu ada 900 jenis rendang,” katanya. “Sudah merasakan semua?” “Baru kira-kira 100 jenis”. Maka setelah punya kereta cepat kelihatannya kita harus memikirkan nasi bungkus. (Dahlan Iskan)

Tags: Antar-negeraaustraliabudayaGlobalisasiMakan Pakai TanganNasi BungkusPerang Makanan

Berita Terkait

Kampanye Telur Baik dari ICFA Sapa Pengunjung PIM 5
Ekonomi

Kampanye Telur Baik dari ICFA Sapa Pengunjung PIM 5

2026/10/21
Transformasi Underwriting Berbasis Data
Ekonomi

Transformasi Underwriting Berbasis Data

2026/09/29
Anker eufy Breast Pump S1 Pro Cocok untuk Ibu Aktif
Ekonomi

Anker eufy Breast Pump S1 Pro Cocok untuk Ibu Aktif

2026/09/25
Jin Jiang Hotels Akselerasi Ekspansi ASEAN
Ekonomi

Jin Jiang Hotels Akselerasi Ekspansi ASEAN

2026/09/25
Luxpawn Buka Lounge Kedua, Jajakan Pembiayaan Aset Bernilai Prestisius
Ekonomi

Luxpawn Buka Lounge Kedua, Jajakan Pembiayaan Aset Bernilai Prestisius

2026/09/17
SNADA Indonesia 2026 Perkenalkan “Suara dan Nada dari Indonesia Timur”
Ekonomi

SNADA Indonesia 2026 Perkenalkan “Suara dan Nada dari Indonesia Timur”

2026/09/04

Populer

Simak! Ini Perbedaan kuliah Administrasi Perkantoran dan Administrasi Bisnis

Simak! Ini Perbedaan kuliah Administrasi Perkantoran dan Administrasi Bisnis

6 Januari 2022 15:59
Ade Jona Prasetyo

Sosok Ayah Inspirasi Ade Jona Prasetyo Raih Kesuksesan

25 Oktober 2021 13:24
Karnaval SCTV

Karnaval SCTV Digelar di Bogor, Catat Tanggal, dan Intip Para Bintangnya

15 Juli 2022 11:11
Lucy In The Sky

Kendalikan Lucy In The Sky, Ini Bisnis yang Digeluti Delta Wibawa Bersama

23 April 2022 13:27
Jumpa pers PT.HDI menyingkapi kasus hukum yang menimpa JE di kantor PT. HDI di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (8/7)I

Langgar Kode Etik, HDI Hentikan Keanggotaan JE

8 Juli 2022 19:10
we Tv (Foto : ist)

WeTV Rilis Fitur Sewa Konten WeTV Original

30 April 2022 00:16
istimewa

Dari Game Mobile Legend, Zeva Christian Buktikan Gen Z Bisa Hasilkan Cuan Miliaran

26 September 2023 16:27
Kertas Basuki Rachmat

Kejagung Sita Aset Kertas Basuki Rachmat Indonesia, Ini Penjelasan Manajemen 

22 Maret 2022 12:00
HOTS Championship

Waw, Transaksi HOTS Championship Season IV Mirae Asset Sekuritas Rp19 Triliun

7 Juli 2021 21:36 - Updated on 8 Juli 2021 19:40
King Kevin, Sosok di Balik Suksesnya Planet Gadget yang Suka Bikin Konten Motivasi di Tiktok

King Kevin, Sosok di Balik Suksesnya Planet Gadget yang Suka Bikin Konten Motivasi di Tiktok

2 Desember 2022 15:06

Pilihan Redaksi

Godok Dua Aksi Korporasi, Trimegah Buru Stempel Investor

Godok Dua Aksi Korporasi, Trimegah Buru Stempel Investor

15 Maret 2024 07:27
Sarana Menara

Anak Usaha Sarana Menara, Protelindo Kantongi Kredit Rp16,5 Triliun

21 September 2021 13:07
Bank Amar

Dongkrak Kinerja, Bank Amar Perkuat Ekosistem Digital

26 Agustus 2021 22:58
Salim Ivomas

Alihkan 315 Juta Saham Treasuri, Salim Ivomas Tunggu Restu Investor  

19 Oktober 2023 11:27
IHSG

Mengekor Wall Street, IHSG Lanjutkan Tren Positif

6 Februari 2023 07:27
Para pemeran dan pembuat serial "Cinta Di Balik Awan" (2022) yaitu aktor Arbani Yasiz (kiri, atas), sutradara Umay Shahab (tengah, atas), Martin dari Vision+ (kanan, atas), Managing Director Vision+ Clarissa Tanoesoedibjo (kanan, bawah), Prilly Latuconsina (tengah, bawah) dan aktris Yasamin Jasem (kiri, bawah) berfoto bersama usai jumpa pers di Jakarta, Kamis (7/7/2022). (ANTARA)

Hadirkan Petualangan Anak Muda Beragam Genre, Vision+ Rilis Original Series Cinta Di Balik Awan

8 Juli 2022 13:20
Prambanan Jazz Virtual Festival 2021.

Prambanan Jazz Festival 2021 Digelar secara Virtual

19 November 2021 02:17
Plt Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman (dua kanan) menyerahkan Al-Qur’an 2.000 mushaf secara simbolis kepada kabupaten/kota di acara pengukuhan Pengurus MUI Sulsel di Makassar, Minggu (31/10/2021).

MUI Komitmen Tumbuhkan Ekonomi dan Jasa Keuangan Syariah

31 Oktober 2021 21:30
Nicolas Maduro

Akun Facebook Presiden Venezuela Nicolas Maduro Dibekukan Facebook

28 Maret 2021 03:50
Wijaya Karya

Ambles 1.106 Persen, Wijaya Karya Tekor Rp7,12 Triliun

2 April 2024 09:22

About

indoposnews.co.id

“Berita Terbaru Indonesia”
Alamat :
Grand Slipi Tower, Lantai 9 Unit O, Jalan Jend. S. Parman Kav 22-24, Jakarta Barat, DKI Jakarta.
Telepon : 02174773761
Email : redaksiindoposnews@gmail.com

Follow us

Alamat : Grand Slipi Tower, Lantai 9 Unit O, Jalan Jend. S. Parman Kav 22-24, Jakarta Barat, DKI Jakarta. Telepon : 02174773761 Email : redaksiindoposnews@gmail.com

No Result
View All Result
  • Home
  • NEWS
    • Nasional
    • Politik
    • Nusantara
    • Hukum
    • Ibu Kota Negara
    • COVID-19 UPDATE
  • Ekonomi
    • Tekno
  • Olahraga
  • JABODETABEK
  • Gaya Hidup
    • Fashion
    • Beauty
    • Health & Fitness
    • Hunian
    • Jalan- Jalan
    • Kids
    • Kuliner
    • Pendidikan
    • Otomotif
  • HIBURAN
    • selebritis
    • Musik
    • Film
      • Review Film
    • Televisi
    • Mancanegara
    • Bollywood
    • K – pop
    • Budaya
  • Opini
  • Indeks

Alamat : Grand Slipi Tower, Lantai 9 Unit O, Jalan Jend. S. Parman Kav 22-24, Jakarta Barat, DKI Jakarta. Telepon : 02174773761 Email : redaksiindoposnews@gmail.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
indoposnews.co.idLogo Header Menu