Indoposonline.NET – Perdagangan akhir pekan lalu indeks bursa Wall Street ditutup melemah cukup dalam. Itu dipicu kekhawatiran investor bank sentral Amerika Serikat (AS) akan menaikkan suku bunga acuan lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
Dow Jones melemah 533 poin (1,58 persen) pada level 33.290, S&P 500 turun 55 poin (1,31 persen) menjadi 4.166, Nasdaq terkoreksi 131 poin (0,92 persen) ke posisi 14.030, dan EIDO terkapar 0,52 poin (2,45 persen) ke level 20,69.
Baca juga: PHRI Dukung Penuh Langkah Pemerintah Tertibkan Restoran Langar Prokes
Selama sepekan, indeks Dow Jones terkoreksi 3,5 persen, S&P 500 melepuh 1,9 persen, dan Nasdaq terpangkas 0,2 persen. Pada acara Squawk Box, gubernur bank sentral AS alias the federal reserve (the Fed) wilayah St. Louis mengeluarkan pernyataan cukup hawkish. Dia mengatakan kenaikan suku bunga acuan untuk kali pertama kemungkinan akan terjadi pada tahun depan. Padahal, sebelumnya hasil rapat The Fed mengisyaratkan dua kenaikan suku bunga acuan baru akan terjadi pada akhir 2023.
Seiring kekhawatiran akan kenaikan suku bunga lebih cepat dari perkiraan sebelumnya, sektor-sektor diuntungkan adanya pembukaan ekonomi selama sepekan mengalami tekanan jual cukup besar. Sektor energi minus 5,2 persen, dan industri anjlok 3,8 persen, sedang sektor keuangan dan material melemah lebih dari 6 persen.
Baca juga: Bergejolak, Volume Transaksi Harian Tergerus 11,87 Persen jadi 21,29 Miliar Saham
Menilik data itu, Mino Equity Analyst Indo Premier Sekuritas menyebut koreksi bursa Wall Street akan menjadi sentimen negatif pasar. Sementara itu, lonjakan kasus Covid-19, dan turunnya beberapa harga komoditas akan menjadi tambahan sentimen negatif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG).
Karena itu, sepanjang perdagangan Senin (21/6), Indeks akan bergerak melemah dengan support level 5.945, dan resisten level 6.065. Sejumlah saham lain koleksi antara lain Sarana Menara Nusantara (TOWR) support Rp1.180, dan resisten Rp1.260, XL Axiata (EXCL) support Rp2.540, dan resisten Rp2.630, Tower Bersama (TBIG) support Rp3.070, dan resisten Rp3.220, dan Telkom Indonesia (TLKM) support Rp3.310, dan resisten Rp3.400. (abg)



























