indoposnews.co.id – Chandra Asri (TPIA) tengah mencermati perkembangan geopolitik, dan perekonomian global. Pasalnya, situasi mondial itu, akan mempengaruhi permintaan. Itu sebagai pijakan dalam memperkuat operasional perusahaan pada 2026.
Tahun ini, bisnis TPIA dibayangi ketidakpastian global. Meski pada kuartal III tahun 2025 mencatat perbaikan kinerja atau tumbuh 2.950 persen hingga dapat mencetak laba, tantangan industri petrokimia tahun ini datang dari berbagai faktor. Misalnya, dinamika geopolitik global, oversupply produk petrokimia, dan persaingan harga ketat.
“Core business kami petrokimia dari segi margin masih very challenging. Karena ada dinamika, geopolitik, persaingan kompetitor, dari produk oversupply,” tutur Suryandi, Direktur Sumber Daya Manusia Dan Urusan Korporat TPIA, dalam acara diskusi media di Seribu Rasa Gunawarman Jakarta, Selasa, 24 Februari 2026.
Baca juga: Broker Ini Timbun Saham MD Entertainment Rp787 Miliar
Selain itu, pertumbuhan ekonomi Tiongkok tidak sekuat tahun-tahun sebelumnya turut berdampak pada industri petrokimia. Tahun ini dari segi margin untuk industri petrokimia masih tipis. Dengan demikian, TPIA akan fokus pada penguatan fundamental operasional. Menjaga stabilitas, meminimalkan risiko, dan memastikan keberlangsungan produksi.
Itu tercermin sejak tahun lalu perusahaan mulai masuk bisnis infrastruktur. Langkah itu, dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada siklus industri petrokimia, menciptakan sumber pendapatan lebih stabil, hingga dapat memberikan kontribusi lebih besar dibanding tahun 2025. “Untuk mengantisipasi atau memberikan hasil lebih pasti, tahun lalu kita sudah masuk business infrastructure,” ucapnya.
Suryandi menuturkan, TPIA akan menjaga keandalan operasional pabrik, khususnya fasilitas Cilegon dan Singapura. Sebab, gangguan operasional dapat berdampak sangat signifikan. “Karena satu hari, pabrik Cilegon shutdown, loss of mesin printer atau apa, bisa sampai USD3 juta loss,” bebernya.
Baca juga: Izin Investor, Bukit Uluwatu Right Issue 50 Miliar Saham
Di sisi lain, saham Chandra Asri mulai menggeliat. Tren penurunan harga perlahan mulai menjauh. Mulai masuk fase akumulasi. Seara teknikal saham TPIA sudah membentuk pola golden cross. Rata-rata pergerakan harga atau Moving Average (MA) 20, dan 60 hari bersilangan ke atas. Pola inverted head and shoulders juga mulai terlihat.“TPIA sudah mulai meninggalkan fase downtrend dan terjadi trend shifting menuju fase uptrend,” ujar Nafan.
Nafan mematok tiga target harga untuk saham TPIA. Target pertama berada di level Rp7.400. Target kedua menanti di posisi Rp7.900. Target tertinggi mengarah ke level Rp8.700. Ada potensi kenaikan hingga 21,68 persen dari level penutupan di harga Rp7.150. Ia merekomendasikan accumulating buy atau tahan saham ini.
Kenaikan harga ini mendapat dorongan kuat dari sisi fundamental. Kondisi TPIA kini jauh lebih kokoh dibandingkan satu atau dua tahun lalu. Akuisisi aset strategis di Singapura menjadi pendorong utamanya. Langkah ini mencakup pembelian Shell Energy and Chemicals Park.
Baca juga: Pendaftaran BTN RUN 2026 Dibuka, Bidik 7.600 Peserta
Aksi korporasi tersebut berdampak langsung pada kinerja keuangan. TPIA berhasil membalikkan keadaan dari posisi rugi menjadi untung. Meski fundamental menguat, investor tetap harus waspada. Penilaian harga saham atau valuasi TPIA tergolong premium. Rasio Price Earning (PE) tercatat cukup tinggi mencapai 28,52 kali. Angka ini jauh di atas rata-rata industri sejenis.
Tantangan lainnya datang dari industri petrokimia global. Pasar dunia sedang mengalami kelebihan pasokan atau oversupply dari Tiongkok. Kondisi ini menekan harga jual produk. Margin keuntungan TPIA juga sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak mentah. Beban perusahaan juga ikut bertambah. Agresivitas dalam melakukan akuisisi dan penerbitan obligasi meningkatkan beban bunga. Manajemen dituntut memiliki efisiensi operasional tingkat tinggi.
Soal likuiditas, jumlah saham beredar di publik (free float) TPIA saat ini baru mencapai 10,67 persen. Perusahaan memiliki tantangan besar memenuhi syarat free float 15 persen dari MSCI. Manajemen berkomitmen kuat untuk mengejar target tersebut. Secara historis, free float TPIA pernah menyentuh angka 24,75 persen.“TPIA bisa memenuhi limit free float karena secara histori sudah pernah 24 persen,” tambah Nafan.
Baca juga: Ekspansif! BSN Masuki Ekosistem Ekonomi Muhammadiyah
Di tengah berbagai tantangan, TPIA memiliki rapor keberlanjutan atau ESG yang sangat memukau. Skor Sustainalytics perusahaan berada di level 16,37. Angka terendah ini masuk dalam kategori sangat bagus atau leading company. TPIA sangat unggul dalam manajemen gas rumah kaca serta keselamatan kerja tingkat global.
Kombinasi sentimen ini membuat arah pergerakan saham TPIA menarik untuk dicermati. Aliran dana institusi besar dan sentimen akuisisi anak usaha sangat mempengaruhi fluktuasi harga. Saham ini sangat cocok bagi investor dengan profil risiko moderat hingga agresif. Terutama bagi mereka yang meyakini prospek ekspansi jangka panjang Grup Barito. (abg)


























