• Redaksi
Kamis, Mei 7, 2026
indoposnews.co.id
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • NEWS
    • Nasional
    • Politik
    • Nusantara
    • Hukum
    • Ibu Kota Negara
    • COVID-19 UPDATE
  • Ekonomi
    • Tekno
  • Olahraga
  • JABODETABEK
  • Gaya Hidup
    • Fashion
    • Beauty
    • Health & Fitness
    • Hunian
    • Jalan- Jalan
    • Kids
    • Kuliner
    • Pendidikan
    • Otomotif
  • HIBURAN
    • selebritis
    • Musik
    • Film
      • Review Film
    • Televisi
    • Mancanegara
    • Bollywood
    • K – pop
    • Budaya
  • Opini
  • Indeks
  • Home
  • NEWS
    • Nasional
    • Politik
    • Nusantara
    • Hukum
    • Ibu Kota Negara
    • COVID-19 UPDATE
  • Ekonomi
    • Tekno
  • Olahraga
  • JABODETABEK
  • Gaya Hidup
    • Fashion
    • Beauty
    • Health & Fitness
    • Hunian
    • Jalan- Jalan
    • Kids
    • Kuliner
    • Pendidikan
    • Otomotif
  • HIBURAN
    • selebritis
    • Musik
    • Film
      • Review Film
    • Televisi
    • Mancanegara
    • Bollywood
    • K – pop
    • Budaya
  • Opini
  • Indeks
No Result
View All Result
indoposnews.co.id
No Result
View All Result
Home Headline

Afgan 2.0

Sandy H by Sandy H
19 Agustus 2021 08:47
dahlan iskan
Share on FacebookShare on Twitter

oleh Dahlan Iskan

SAYA tidak percaya ini: masak sih tidak ada satu pun mahasiswa yang tertarik mendalami soal Afghanistan. Padahal begitu banyak mahasiswa di universitas Islam di Indonesia. Lebih dari 200.000 orang.

Mungkin saya saja yang gagal mencari siapa ahli Afghanistan di sana. Tidak mungkin tidak ada yang tertarik mendalami masalah negara Islam yang begitu sering menjadi perhatian dunia.

Baca Juga

Ujung Tombak Apple

Amarah Beliung

Akhirnya Prabowo!

Emas Crazy

Seorang profesor UIN minta saya agar menghubungi Profesor Khan –bukan nama sebenarnya. Beliau ahli. Ternyata juga bukan ahli Afghanistan. Hanya pernah ke Afghanistan. Itu pun 40 tahun yang lalu.

Pembaca Disway banyak yang menyebut nama Agustinus Wibowo. Ia pernah lama di Afghanistan. Bisa bahasa Pastun. Bisa Mandarin. Sering menulis tentang Afghanistan. Konon sekarang tinggal di Jember. Saya janji akan uber orang itu.

Menjadi wartawan di Amerika rupanya memang lebih mudah. Mereka punya ahli apa saja. Banyak sekali guru besar di Amerika yang ahli tentang Indonesia. Padahal apalah Indonesia di mata Amerika. Bahkan sampai ada yang ahli tentang Rhoma Irama. Ada juga yang ahli tentang wayang kulit.

Ya sudahlah. Saya sendiri juga heran: kok dulu memilih Fakultas Tarbiyah. Saya sih bukan memilih waktu itu. Itulah satu-satunya fakultas yang ada di IAIN Sunan Ampel cabang Samarinda.

Baca Juga : Hitung Emir

Waktu itu pandangan saya juga sempit. Hanya mau cari fakultas yang kalau lulus cepat mendapat pekerjaan. Kuliah di Fakultas Tarbiyah, kata kakak saya, bisa segera jadi guru agama. Sama sekali tidak memikirkan bahwa Indonesia memerlukan orang yang ahli Afghanistan!

Saya tidak mengikuti CNN atau BBC. Juga tidak mengikuti Al Jazeera atau Al Arabia –kemampuan bahasa Arab saya tidak mencukupi.

Untuk Afghanistan ini saya mengikuti media-media di Pakistan. Tentu dengan sikap skeptis. Juga lewat media-media Amerika. Dengan sikap yang sama.

Saya beruntung pernah sering bertemu orang-orang dari suku Pastun. Juga sering bicara dengan orang dari suku Hazaras.

Pastun menguasai 50 persen penduduk. Hazaras hanya 9 persen –sama dengan suku Tajiks yang juga 9 persen. Suku-suku lainnya amat kecil-kecil.

Orang-orang kaya suku Pastun hampir selalu punya pembantu orang Hazaras. Tidak ada orang Pastun yang mau jadi pembantu atau buruh kasar. Orang Pastun adalah orang dengan mental juragan. Dengan harga diri yang sangat tinggi.

Hazaras memang hanya 9 persen –mirip jumlah Tionghoa di Indonesia– tapi mereka terkonsentrasi di satu wilayah tengah. Yakni di sebelah barat Kabul. Dengan demikian untuk wilayah itu, suara Hazaras dominan. Pemerintahan lokal pun pemerintahan Hazaras.

Konflik di antara Pastun dan Hazaras bukan hanya soal juragan dan pembantu. Masih ditambah soal aliran keagamaan. Pastun adalah penganut Sunni. Hazaras umumnya penganut Syiah.

Kenyataan seperti itulah yang membuat Afghanistan agak sulit mengikuti jejak Uni Emirat Arab (UEA) yang kaya raya.

Di UEA hanya ada dua ke-emiran besar: ke-emiran Abu Dhabi dan Dubai. Lima ke-emiran lainnya sangat kecil-kecil. Ke-emiran Ras al Khaimah misalnya, hanya berpenduduk 300.000 orang –hanya seperti satu kecamatan di Jawa. Bahkan ke-emiran Ajman luasnya hanya 15 km x 15 km.

Di UEA, pembagian kue kekuasaan dengan mudah dibagi. Presiden UEA harus selalu dari Abu Dhabi. Sedang perdana menteri harus dari Dubai. Lima emir lainnya dapat jatah di kementerian.

Masing-masing emir mengatur pemerintahan mereka sendiri. Pemerintah pusat tidak punya hak ikut campur. Bahkan ketika Dubai nyaris bangkrut 15 tahun lalu –akibat ambisi besarnya untuk menjadi Singapura-nya dunia Arab– pemerintah pusat tidak turun tangan. Emir Abu Dhabi-lah yang menyelamatkan keuangan Dubai. Lewat skema pinjam-meminjam seperti antar negara.

Di Afghanistan –kalau jadi bentuk negaranya adalah ke-emiran– pasti Pastun yang menjadi pimpinan negara dan pimpinan pemerintahan. Hanya apakah ibu kota akan kembali pindah ke Kandahar belum ada tanda-tanda ke sana. Kota Kandahar adalah kota terbesar kedua. Lebih dekat ke Pakistan. Di situlah Taliban didirikan. Di wilayah itu, suku Pastun lebih dominan.

Saya belum tahu bagaimana di wilayah yang didominasi suku Tajiks. Apakah suku Tajiks bisa bersatu atau terbagi juga ke dalam berapa ke-emiran.

Sedang di wilayah Hazaras rasanya hanya akan ada satu ke-emiran. Paham Syiah membuat mereka lebih tunduk ke satu imam.

Apakah Hazaras akan mendapat tempat yang layak? Itu masih tanda tanya besar. Itu memerlukan jiwa besar Pastun untuk bisa menerima apa yang mereka anggap sebagai ”kasta terendah” itu.

Di UEA memang ada jabatan presiden dan perdana menteri. Tapi itu hanya istilah saja. Sistem pemerintahannya murni otoriter kerajaan. Bukan presidensial, bukan pula parlementer.

Di Afghanistan mungkin akan ada dewan tertinggi emir. Semacam Syuriah di NU atau Dewan Syuro di PKS. Lalu ada Tanfidziah yang akan memegang pemerintahan.

Memang masih tanda tanya besar: benarkah pemerintahan Taliban 2.0 ini –pinjam istilah komentar di Disway– lebih moderat. Apakah tidak akan muncul tekanan dari bawah untuk menerapkan syariat Islam secara lama.

Juru bicara resmi Taliban pusat memang sangat menjanjikan: wanita boleh bekerja dan sekolah. Semua pejabat lama dimaafkan. Pers independen dibolehkan terus berjalan.

Tapi di lapangan bisa agak berbeda. Saya melihat televisi Amerika. Senin lalu seorang wartawati mencegat pasukan pejuang Taliban bersenjata. Yakni sehari setelah Taliban merebut ibu kota Kabul. Wartawati itu memakai jilbab, dengan wajah tanpa penutup.

Si wartawati bertanya: apakah orang seperti saya bisa diterima?

Jawab: bisa.

Wartawati: Dengan pakaian muslimah seperti ini?

Jawab: iya

Wartawati: tanpa penutup wajah seperti ini? (sambil menyodorkan wajah cantiknya).

Jawab: tidak bisa, harus pakai penutup.

Itu menggambarkan betapa beda antara pendapat elite dan akar rumput.

Kalau pun Taliban 2.0 akan lebih moderat dari mana mereka belajar berubah?

Karena mereka punya markas di Qatar? Karena tekanan Amerika? Karena tekanan calon investor baru mereka, Tiongkok? Atau karena negara-negara Arab sendiri juga sudah banyak berubah?

Yang jelas, mereka yang 20 tahun lalu masih berumur 10 tahun, sekarang sudah berumur 30 tahun. Mereka sudah mengenal HP sampai ke pelosok. Mereka juga aktif mengirim delegasi ke berbagai negara lain –termasuk ke Indonesia dan Tiongkok.

Sebenarnya kita sedang berharap pemerintahan baru segera terbentuk. Agar komando segera terstruktur. Jangan sampai kedahuluan munculnya tekanan-tekanan liar dari bawah.

Tapi sudah dua hari ini belum ada indikasi pemerintahan baru itu segera terbentuk. Amerika tidak mungkin lagi kembali ke Afghanistan. “Kita tidak pernah punya misi mendemokrasikan Afghanistan,” ujar Presiden Amerika Serikat Joe Biden ke media kemarin.

Tujuan Amerika sudah tercapai: menghancurkan Al Qaida dan membunuh Osama Bin Laden. Merekalah yang dituduh mendalangi penyerangan menara kembar di New York 11 September 2001 lalu.

Dengan mengalahkan Afghanistan, Amerika telah menghibur rakyatnya yang sedih akibat peristiwa New York itu. Itulah hiburan senilai Rp 30.000 triliun.

Angka itu juga telah menghibur banyak orang, termasuk Anda. Bukankah Anda pernah merasa  menggunakan uang secara sia-sia?

Janganlah bersedih. Ingat saja Amerika. Mereka juga telah membelanjakan dana segitu banyak untuk tidak menghasilkan apa-apa. (Dahlan Iskan)

 

Tags: dahlan iskanindoposindoposonlineIndoposonline.net

Berita Terkait

Ujung Tombak Apple
Headline Utama

Ujung Tombak Apple

2024/09/22
Amarah Beliung
Headline News

Amarah Beliung

2024/05/25
Akhirnya Prabowo!
Headline Utama

Akhirnya Prabowo!

2024/02/15
Fokus Eksplorasi Emas, Aneka Tambang Bakar Duit Rp38,90 Miliar 
Ekonomi

Emas Crazy

2024/01/20
Buya Syakur
Headline Utama

Buya Syakur

2024/01/19
Aneka Tambang
Headline Utama

Bara Emas Antam 

2023/12/15

Populer

Simak! Ini Perbedaan kuliah Administrasi Perkantoran dan Administrasi Bisnis

Simak! Ini Perbedaan kuliah Administrasi Perkantoran dan Administrasi Bisnis

6 Januari 2022 15:59
Ade Jona Prasetyo

Sosok Ayah Inspirasi Ade Jona Prasetyo Raih Kesuksesan

25 Oktober 2021 13:24
Karnaval SCTV

Karnaval SCTV Digelar di Bogor, Catat Tanggal, dan Intip Para Bintangnya

15 Juli 2022 11:11
Lucy In The Sky

Kendalikan Lucy In The Sky, Ini Bisnis yang Digeluti Delta Wibawa Bersama

23 April 2022 13:27
Jumpa pers PT.HDI menyingkapi kasus hukum yang menimpa JE di kantor PT. HDI di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (8/7)I

Langgar Kode Etik, HDI Hentikan Keanggotaan JE

8 Juli 2022 19:10
we Tv (Foto : ist)

WeTV Rilis Fitur Sewa Konten WeTV Original

30 April 2022 00:16
istimewa

Dari Game Mobile Legend, Zeva Christian Buktikan Gen Z Bisa Hasilkan Cuan Miliaran

26 September 2023 16:27
Kertas Basuki Rachmat

Kejagung Sita Aset Kertas Basuki Rachmat Indonesia, Ini Penjelasan Manajemen 

22 Maret 2022 12:00
King Kevin, Sosok di Balik Suksesnya Planet Gadget yang Suka Bikin Konten Motivasi di Tiktok

King Kevin, Sosok di Balik Suksesnya Planet Gadget yang Suka Bikin Konten Motivasi di Tiktok

2 Desember 2022 15:06
HOTS Championship

Waw, Transaksi HOTS Championship Season IV Mirae Asset Sekuritas Rp19 Triliun

7 Juli 2021 21:36 - Updated on 8 Juli 2021 19:40

Pilihan Redaksi

bank DBS

Sustainable Finance sebagai Kunci untuk Menuju Indonesia yang Lebih Hijau

18 Maret 2021 22:37 - Updated on 21 Maret 2021 22:40
Elang Mahkota Teknologi

Emtek Group Rampungkan Akuisisi Bank Fama Rp908,95 Miliar

24 Desember 2021 16:57
Gempa - indoposnews.co.id

Gempa di Cianjur Dirasakan dari Sukabumi Hingga Jakarta

16 Maret 2022 11:00
Nippon Indosari

Lawan Covid-19, Penjualan Nippon Indosari Naik 2,4 Persen Menjadi Rp3,29 Triliun

8 Maret 2022 17:27
Gulung 53,36 Juta Saham Merdeka, Saratoga Rogoh Rp121,28 Miliar

Nyungsep 181 Persen, Merdeka Gold Boncos USD67,02 Juta

22 Desember 2024 07:27
Reklame LED

Tidak Kantongi Izin, Tiga Papan Reklame LED Dibongkar

7 September 2021 08:50
Tunas Ridean

Go Private, Tunas Ridean Gulung Laba Bersih Rp898 Miliar

15 Maret 2023 11:27
IHSG

Bursa Global Positif, IHSG Mentas dari Zona Merah

4 Juli 2022 06:27
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian.

Mendagri Perpanjang PPKM Disetiap Level

8 Februari 2022 06:30
Sandwich

Sandwich Jepang Rasa Lokal Cita Rasa Melimpah, Mau Coba !

16 Juni 2021 21:55 - Updated on 17 Juni 2021 00:01

About

indoposnews.co.id

“Berita Terbaru Indonesia”
Alamat :
Grand Slipi Tower, Lantai 9 Unit O, Jalan Jend. S. Parman Kav 22-24, Jakarta Barat, DKI Jakarta.
Telepon : 02174773761
Email : redaksiindoposnews@gmail.com

Follow us

Alamat : Grand Slipi Tower, Lantai 9 Unit O, Jalan Jend. S. Parman Kav 22-24, Jakarta Barat, DKI Jakarta. Telepon : 02174773761 Email : redaksiindoposnews@gmail.com

No Result
View All Result
  • Home
  • NEWS
    • Nasional
    • Politik
    • Nusantara
    • Hukum
    • Ibu Kota Negara
    • COVID-19 UPDATE
  • Ekonomi
    • Tekno
  • Olahraga
  • JABODETABEK
  • Gaya Hidup
    • Fashion
    • Beauty
    • Health & Fitness
    • Hunian
    • Jalan- Jalan
    • Kids
    • Kuliner
    • Pendidikan
    • Otomotif
  • HIBURAN
    • selebritis
    • Musik
    • Film
      • Review Film
    • Televisi
    • Mancanegara
    • Bollywood
    • K – pop
    • Budaya
  • Opini
  • Indeks

Alamat : Grand Slipi Tower, Lantai 9 Unit O, Jalan Jend. S. Parman Kav 22-24, Jakarta Barat, DKI Jakarta. Telepon : 02174773761 Email : redaksiindoposnews@gmail.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
indoposnews.co.idLogo Header Menu