indoposnews.co.id – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membawa perubahan besar dalam lanskap keamanan siber global, termasuk Indonesia. Kalau sebelumnya serangan siber identik dengan metode konvensional, kini pelaku ancaman mulai memanfaatkan AI untuk meningkatkan kecepatan, skala, dan efektivitas serangan.
Di sisi lain, banyak organisasi masih menghadapi tantangan akibat sistem keamanan terfragmentasi, dan operasional keamanan makin kompleks. Temuan tersebut terungkap dalam studi terbaru Fortinet bersama Forrester Consulting. Studi melibatkan 585 pengambil keputusan keamanan siber kawasan Asia Pasifik itu, menunjukkan mayoritas organisasi kini menghadapi tekanan besar.
Organisasi dipaksa memperkuat ketahanan digital di tengah peningkatan ancaman berbasis AI. Hasil studi mencatat 69 persen organisasi menilai ancaman berbasis AI sebagai salah satu kekhawatiran utama saat ini. Tidak hanya dari faktor eksternal, risiko juga muncul dari kompleksitas internal perusahaan. Sebanyak 64 persen responden mengaku banyak tools keamanan, dan arsitektur terfragmentasi justru menyulitkan pengelolaan keamanan siber secara menyeluruh.
Baca juga: Mulai Untung, Pizza Hut Distribusikan Dividen Rp5 Miliar
Country Director Fortinet Indonesia, Edwin Lim, mengatakan perkembangan ancaman siber saat ini bergerak jauh lebih cepat dibanding beberapa tahun lalu. Menurutnya, AI kini tidak hanya dimanfaatkan oleh perusahaan untuk meningkatkan efisiensi, tetapi juga digunakan oleh pelaku kejahatan siber untuk mempercepat proses serangan.
“Pelaku ancaman kini memanfaatkan AI untuk meningkatkan kecepatan dan efektivitas serangan. Di sisi lain, banyak organisasi masih kesulitan mengelola sistem keamanan yang kompleks, terutama ketika visibilitas terhadap ancaman masih terbatas dan terlalu banyak solusi keamanan yang berjalan sendiri-sendiri,” ujar Edwin.
Kompleksitas tersebut semakin terasa di tingkat operasional. Studi menunjukkan 46 persen organisasi mengaku kewalahan menghadapi volume alert keamanan yang terlalu besar, sehingga menyulitkan tim keamanan membedakan ancaman nyata dengan aktivitas biasa. Selain itu, 43 persen organisasi masih bergantung pada proses manual untuk mendeteksi dan menangani insiden keamanan siber.
Baca juga: ABM Investama Salurkan Dividen Rp267 Miliar, Lo Kheng Hong Dapat Jatah Segini
Kondisi ini membuat banyak organisasi mulai menyadari pentingnya penyederhanaan arsitektur keamanan dan peningkatan otomatisasi. Perusahaan kini tidak lagi hanya mencari solusi keamanan tambahan, tetapi mulai beralih menuju pendekatan keamanan berbasis platform yang lebih terintegrasi.
Forrester Consulting Project Lead, Amelia Lau, menilai organisasi di kawasan Asia Pasifik saat ini menghadapi tantangan ganda: ancaman berbasis AI yang berkembang pesat dan kompleksitas internal yang terus meningkat. “Peralihan menuju pendekatan keamanan berbasis platform yang terintegrasi akan menjadi kunci untuk meningkatkan visibilitas, efisiensi, dan ketahanan organisasi. Kompleksitas kini bukan lagi sekadar tantangan operasional, tetapi telah menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko keamanan siber,” katanya.
Saat ini baru sekitar 29 persen organisasi telah mengoperasikan platform keamanan terpadu. Namun dalam 12 hingga 24 bulan mendatang, angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 60 persen, seiring peningkatan kebutuhan perusahaan terhadap sistem keamanan lebih sederhana, efisien, dan mudah dikelola. Selain penyederhanaan sistem, pemanfaatan AI juga mulai diposisikan sebagai bagian penting dalam operasi keamanan modern.
Baca juga: Melejit 317 Persen, Perusahaan Aguan Raup Laba Rp542 Miliar
Studi menunjukkan sebanyak 95 persen organisasi di kawasan Asia Pasifik berencana meningkatkan investasi AI untuk keamanan siber. Mayoritas responden percaya AI dapat membantu meningkatkan akurasi deteksi ancaman, mempercepat respons insiden, hingga mengurangi ketergantungan pada proses manual. Namun, implementasi AI juga dinilai tidak akan berjalan optimal tanpa fondasi data dan integrasi memadai.
Banyak organisasi masih menghadapi tantangan karena lingkungan TI terfragmentasi, otomatisasi terbatas, serta data yang belum terhubung secara menyeluruh. Banyak organisasi memiliki ekspektasi besar terhadap AI untuk mentransformasi operasi keamanan. Namun, menurutnya, AI hanya dapat memberi hasil efektif jika dibangun di atas fondasi keamanan yang terintegrasi.
“Tanpa visibilitas terpadu dan data yang terhubung lintas lingkungan, AI justru berisiko memperbesar kompleksitas alih-alih menguranginya. Integrasi menjadi kunci agar AI dapat bekerja dalam skala besar dan memberikan dampak keamanan nyata,” tutur VP of Marketing and Communications APAC Fortinet, Rashish Pandey.
Baca juga: Laba RAJA Melesat 14 Persen, Ini Kuncinya
Fortinet menilai tren ini menunjukkan organisasi kini mulai bergerak menuju model keamanan lebih proaktif, terintegrasi, dan berbasis otomatisasi. Di tengah percepatan transformasi digital dan meningkatnya ancaman berbasis AI, perusahaan dituntut tidak hanya memperkuat perlindungan, tetapi juga memastikan operasional keamanan dapat berjalan lebih efisien dan adaptif.
Edwin menambahkan bahwa organisasi perlu mulai membangun fondasi keamanan yang lebih terpadu agar mampu menghadapi ancaman siber modern yang terus berkembang. “Perusahaan saat ini membutuhkan pendekatan keamanan yang tidak hanya kuat, tetapi juga sederhana dan mampu memberikan visibilitas menyeluruh. Integrasi, otomatisasi, dan pemanfaatan AI akan menjadi faktor penting dalam membangun ketahanan digital di masa depan,” pungkasnya. (abg)



























