• Redaksi
Kamis, Oktober 22, 2026
indoposnews.co.id
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • NEWS
    • Nasional
    • Politik
    • Nusantara
    • Hukum
    • Ibu Kota Negara
    • COVID-19 UPDATE
  • Ekonomi
    • Tekno
  • Olahraga
  • JABODETABEK
  • Gaya Hidup
    • Fashion
    • Beauty
    • Health & Fitness
    • Hunian
    • Jalan- Jalan
    • Kids
    • Kuliner
    • Pendidikan
    • Otomotif
  • HIBURAN
    • selebritis
    • Musik
    • Film
      • Review Film
    • Televisi
    • Mancanegara
    • Bollywood
    • K – pop
    • Budaya
  • Opini
  • Indeks
  • Home
  • NEWS
    • Nasional
    • Politik
    • Nusantara
    • Hukum
    • Ibu Kota Negara
    • COVID-19 UPDATE
  • Ekonomi
    • Tekno
  • Olahraga
  • JABODETABEK
  • Gaya Hidup
    • Fashion
    • Beauty
    • Health & Fitness
    • Hunian
    • Jalan- Jalan
    • Kids
    • Kuliner
    • Pendidikan
    • Otomotif
  • HIBURAN
    • selebritis
    • Musik
    • Film
      • Review Film
    • Televisi
    • Mancanegara
    • Bollywood
    • K – pop
    • Budaya
  • Opini
  • Indeks
No Result
View All Result
indoposnews.co.id
No Result
View All Result
Home Opini

Tupai Chong

Rima N by Rima N
1 Agustus 2021 09:30 - Updated on 5 Agustus 2021 20:32
dahlan iskan
Share on FacebookShare on Twitter

oleh Dahlan Iskan

INI soal 2 triliun juga. Kalau dikumpulkan. Dan lagi tulisan ini pasti aman: tentang durian. Disenangi di gurun sekaligus di kolam. Tidak mengenal agama atau pun ras.

Dan lagi, durian bisa mengangkat nasionalisme.

Baca Juga

Ujung Tombak Apple

Amarah Beliung

Akhirnya Prabowo!

Emas Crazy

Seperti yang dilakukan Theng Ah Khiong ini. Ia termasuk yang tidak rela Indonesia kalah oleh Malaysia –dalam hal durian.

Sudah lebih tujuh tahun ia keliling Indonesia. Dari hutan ke hutan: mencari durian unggul di semua pulau.

Akhiong, nama panggilannya, lantas memutuskan untuk membuat lahan riset durian: 40 hektare. Lokasinya di Ogan Ilir, dekat-dekat yang Rp 2 triliun itu.

Di situlah Akhiong menanam 60 jenis durian paling unggul dari seluruh Indonesia. Tanaman itu kini sudah berumur 2 tahun. Serius sekali. Biaya pemeliharaan dan risetnya mahal sekali: Rp 125 juta/hektare sampai berbuah nanti.

Akhiong pun mengambil kesimpulan: durian terbaik adalah dari Kalimantan Barat. Khususnya dari hutan sekitar Entikong –dekat perbatasan dengan Serawak, Malaysia.

Juga: dari Bangka.

Lalu: dari Papua.


Akhiong dan durian Papua.

Akhiong begitu tersinggung kalau ada yang menulis –tidak perlu saya sebut nama penulisnya– durian terbaik adalah Musang King dari Malaysia. Saya sampai tersipu-sipu.

Lebih tersipu lagi kemarin malam, Minggu lalu. Ketika ada paket satu kotak datang ke rumah saya. Saya pikir itu ancaman bom. Ternyata kotak itu berisi durian. Masih utuh dengan kulitnya. Banyak sekali.

Pengirimnya: Akhiong!

Saya harus menghabiskan semua itu. Biar kapok. Biar kalau menulis tidak ngawur. Biar tahu begitu banyak durian Indonesia yang lebih enak dari Musang King.

Kotak itu datangnya dari Bangka. Dikirim dengan pesawat Garuda. Saya lupa menghitung berapa biji. Tiap biji beda rasa, beda nama, beda agama –ups beda teksturnya.

Rupanya Akhiong begitu emosinya sampai mengumpulkan semua jenis durian Bangka terbaik. Ada yang warna dagingnya tembaga –itulah durian Tembaga. Ada yang warnanya putih sekali –durian kapas.

Yang paling dijagokan adalah yang warna dagingnya keemasan: itulah durian Tupai Chong.

“Apakah itu yang di Malaysia disebut Tupai King?” tanya saya.

Akhiong tersinggung.

Ia tidak rela Tupai Chong-nya Bangka disejajarkan dengan Tupai King-nya Malaysia. “Penggunaan kata Tupai di Malaysia itu yang justru meniru Bangka. Istilah Tupai King di Malaysia baru ada dua tahun ini. Tupai Chong sudah puluhan tahun,” ujarnya.

Saya pun tidak sabar: ingin segera membuka Tupai Chong itu.

Tapi makan durian sendirian? Tidak seru. Saya harus tahan emosi. Saya membuat jadwal: habis Isya. Saya undang teman durian saya: Liong Pangkey. Yang di hatinya, di jantungnya, di darahnya hanya ada satu mimpi: durian. Ia orang Gorontalo yang sudah lama di Surabaya.

Sebenarnya saya ingin undang beberapa teman lagi. Tapi saya takut justru saya bisa tidak kebagian.

Yang jelas saya tidak undang istri saya: punya komorbid. Tidak undang dua anak saya: benci durian. Azrul Ananda pernah pingsan di dekat durian. Waktu kecil. Waktu diajak jalan di dekat tumpukan durian di Singapura.

Maka kemarin malam itu, di bawah rindang pohon-pohon mangga di halaman, di depan studio gamelan, di bawah sinar bulan yang masih bulat terang, saya membuka si Tupai Chong. Buahnya kecil –hanya lebih besar dari 10 kepala tupai disatukan

Warnanya benar: keemasan.

Lalu saya pejamkan mata untuk mencicipinya. Ganti saya yang pingsan –seolah-olah. Sambil mengisap daging durian itu, pelan-pelan, khayalan saya ke Singapura, ke Malaysia, ke Vietnam, ke Thailand, ke Hainan: semua kalah. Warnanya, rasanya, manis-pahitnya, teksturnya, serba sempurna.

Kelemahannya: tidak ada.

Ups…ada. Di seluruh Bangka pohonnya hanya ada satu. Tinggal satu itu. Milik Pak Chong. Itulah sebabnya dinamakan Tupai Chong.

Pengakuan saya itu membuat emosi Akhiong reda. Ia pun mau bercerita banyak tentang petualangannya masuk hutan-hutan di banyak basis durian di Indonesia.

Akhiong lahir di Palembang. Ayahnya kontraktor di perusahaan pengeboran minyak. Setamat SMA, ia kuliah di Jerman: teknik mesin. Sepuluh tahun Akhiong di Berlin. Sempat bikin usaha di sana.

Ia sangat terkesan dengan Jerman. Alamnya begitu dipelihara. Di kota Berlin saja ada tiga hutan kota. Di Jerman ia merasa bisa menyatu dengan alam.

Begitu pulang ke Palembang ia menyaksikan rusaknya alam. Ia juga tidak kerasan tinggal di kota seperti Jakarta atau Surabaya. Akhirnya ia pilih menetap di Papua. Di Jayapura. Di situ Akhiong memilih bisnis di perdagangan.

Ketika hidupnya sudah cukup secara ekonomi, Akhiong berpikir apa lagi yang bisa diperbuat untuk keunggulan Indonesia di bidang alam. Sebagai anak Palembang ia sangat durian-minded. Yang di Palembang, di masa kecilnya, durian hampir tidak ada harganya.

Waktu kecil itu, ketika diajak jalan-jalan ke Singapura, ia ikut ayah dan teman-teman sang ayah ke pusat penjualan durian di sana. Yang membuat ia kaget: harganya.

Di kampungnya durian begitu tidak bernilai. Di Singapura begitu mahalnya.

Itulah yang terus hidup di pikirannya. Pun sampai ia bawa ke Jerman. Biar pun sekolahnya teknik ia tidak berhenti memikirkan durian. Terutama soal beda harga tadi.

Sambil dagang, Akhiong pun mulai menyiapkan lahan untuk durian. Tapi bukan seperti waktu ia kecil. Ia harus melakukan riset. Harus dengan ilmu pengetahuan.

Tentu ribuan pohon durian yang ia tanam di lahannya di dekat Palembang itu. Tapi ia menyisihkan sebidang area untuk menanam durian unggulan dari seluruh Indonesia.

Tentu saya berdoa agar pandemi cepat selesai. Salah satu alasan saya: ingin ke lahan riset durian milik Akhiong itu. Sambil mampir ke rumah Heryanti, wanita 2 triliun itu.

Saya, tentu, juga ingin ke Bangka. Untuk bertemu dengan Pak Chong itu. (Dahlan Iskan)

Berita Terkait

Ujung Tombak Apple
Headline Utama

Ujung Tombak Apple

2024/09/22
Amarah Beliung
Headline News

Amarah Beliung

2024/05/25
Akhirnya Prabowo!
Headline Utama

Akhirnya Prabowo!

2024/02/15
Fokus Eksplorasi Emas, Aneka Tambang Bakar Duit Rp38,90 Miliar 
Ekonomi

Emas Crazy

2024/01/20
Buya Syakur
Headline Utama

Buya Syakur

2024/01/19
Aneka Tambang
Headline Utama

Bara Emas Antam 

2023/12/15

Populer

Simak! Ini Perbedaan kuliah Administrasi Perkantoran dan Administrasi Bisnis

Simak! Ini Perbedaan kuliah Administrasi Perkantoran dan Administrasi Bisnis

6 Januari 2022 15:59
Ade Jona Prasetyo

Sosok Ayah Inspirasi Ade Jona Prasetyo Raih Kesuksesan

25 Oktober 2021 13:24
Karnaval SCTV

Karnaval SCTV Digelar di Bogor, Catat Tanggal, dan Intip Para Bintangnya

15 Juli 2022 11:11
Lucy In The Sky

Kendalikan Lucy In The Sky, Ini Bisnis yang Digeluti Delta Wibawa Bersama

23 April 2022 13:27
Jumpa pers PT.HDI menyingkapi kasus hukum yang menimpa JE di kantor PT. HDI di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (8/7)I

Langgar Kode Etik, HDI Hentikan Keanggotaan JE

8 Juli 2022 19:10
we Tv (Foto : ist)

WeTV Rilis Fitur Sewa Konten WeTV Original

30 April 2022 00:16
istimewa

Dari Game Mobile Legend, Zeva Christian Buktikan Gen Z Bisa Hasilkan Cuan Miliaran

26 September 2023 16:27
Kertas Basuki Rachmat

Kejagung Sita Aset Kertas Basuki Rachmat Indonesia, Ini Penjelasan Manajemen 

22 Maret 2022 12:00
HOTS Championship

Waw, Transaksi HOTS Championship Season IV Mirae Asset Sekuritas Rp19 Triliun

7 Juli 2021 21:36 - Updated on 8 Juli 2021 19:40
King Kevin, Sosok di Balik Suksesnya Planet Gadget yang Suka Bikin Konten Motivasi di Tiktok

King Kevin, Sosok di Balik Suksesnya Planet Gadget yang Suka Bikin Konten Motivasi di Tiktok

2 Desember 2022 15:06

Pilihan Redaksi

merawat Mobil

Tips Merawat Mobil yang Jarang ke Bengkel

26 September 2021 09:04
Bank BRI

Aksi Beli Melanda, Direksi Ini Rupanya Kolektor Terbanyak Saham Bank BRI 

11 Desember 2021 09:57 - Updated on 12 Desember 2021 09:27
Surplus 41 Persen, Bank Amar Raup Laba Rp48 Miliar

Surplus 41 Persen, Bank Amar Raup Laba Rp48 Miliar

23 Mei 2024 19:27
Bank BTPN

Penuhi Free Float, Pengendali Ini Lego 200 Juta Saham BTPN Rp520 Miliar

18 Desember 2023 18:27
Ilustrasi - Pekerja menghitung uang dolar AS dan rupiah di sebuah tempat penukaran uang di Jakarta - indoposnews

Dolar AS Menguat Terpengaruh Pembicaraan Damai Rusia dan Ukraina

1 April 2022 08:10
Photo: Instagram/@jamiemillmusic

Jamie Miller Tampil di Malam Puncak SCTV Awards 2022

13 Maret 2022 19:20
Allo Bank

Ali Gunawan Jala 41.500 Saham Allo Bank Rp5.074 per Lembar

7 Juni 2022 09:57
Surya Semesta

Surya Semesta Lepas 61,6 Juta Saham Treasuri, Ini Penyeroknya

19 Agustus 2023 06:27
jokowi

Jokowi Resmikan Jalan Tol Dalam Kota Jakarta Segmen Kelapa Gading-Pulo Gebang

23 Agustus 2021 09:38
Kerek Performa, Emiten Asuhan Boy Thohir Injeksi Modal Anak Usaha USD35,95 Juta

Drop 158 Persen, Emiten Boy Thohir Berbalik Tekor USD19,65 Juta

29 September 2023 20:27

About

indoposnews.co.id

“Berita Terbaru Indonesia”
Alamat :
Grand Slipi Tower, Lantai 9 Unit O, Jalan Jend. S. Parman Kav 22-24, Jakarta Barat, DKI Jakarta.
Telepon : 02174773761
Email : redaksiindoposnews@gmail.com

Follow us

Alamat : Grand Slipi Tower, Lantai 9 Unit O, Jalan Jend. S. Parman Kav 22-24, Jakarta Barat, DKI Jakarta. Telepon : 02174773761 Email : redaksiindoposnews@gmail.com

No Result
View All Result
  • Home
  • NEWS
    • Nasional
    • Politik
    • Nusantara
    • Hukum
    • Ibu Kota Negara
    • COVID-19 UPDATE
  • Ekonomi
    • Tekno
  • Olahraga
  • JABODETABEK
  • Gaya Hidup
    • Fashion
    • Beauty
    • Health & Fitness
    • Hunian
    • Jalan- Jalan
    • Kids
    • Kuliner
    • Pendidikan
    • Otomotif
  • HIBURAN
    • selebritis
    • Musik
    • Film
      • Review Film
    • Televisi
    • Mancanegara
    • Bollywood
    • K – pop
    • Budaya
  • Opini
  • Indeks

Alamat : Grand Slipi Tower, Lantai 9 Unit O, Jalan Jend. S. Parman Kav 22-24, Jakarta Barat, DKI Jakarta. Telepon : 02174773761 Email : redaksiindoposnews@gmail.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
indoposnews.co.idLogo Header Menu