indoposnews.co.id – PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mendapuk Fuad Rahmany sebagai komisaris utama. Eks Ketua Bapepam-LK itu, terpilih menggantikan Rahmat Waluyanto dalam jajaran Dewan Komisaris KSEI periode 2022-2026.
Untuk kali pertama sejak 2019, RUPS Tahunan diadakan secara luring alias offline. Selain Fuad, Dian Fithri Fadila, dan Indra Christanto juga mengisi slot komisaris KSEI. Saat ini, Fuad juga memangku sebagai Komisaris Independen PT Asuransi Jasa Indonesia, PT TBS Energi Utama, dan Komisaris PT Tambang Damai.
Baca juga: Mirae Asset Sekuritas Optimistis Pertumbuhan Jabar Kembali Topang Ekonomi Indonesia
Sebelumnya, Fuad pernah menjabat sebagai Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), Departemen Keuangan 2006-2011, Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan 2009-2014, dan Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan 2011-2014, Komisaris Independen Bank Rakyat Indonesia 2015-2020, dan Komisaris PT Indonesia Asahan Aluminium 2014-2015.
Dian Fithri untuk kali kedua terpilih dalam jajaran Dewan Komisaris KSEI setelah periode sebelumnya mengemban tugas sebagai komisaris periode 2018-2022. Saat ini, Dian juga menjabat sebagai Sharia Non Retail Funding Head PT Bank CIMB Niaga, dan pernah menjabat Direktur Eksekutif Dewan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia pada 2018-2019.
Baca juga: Dongkrak Performa, Bank BRI Perkuat Modal Entitas Usaha Rp67 Miliar
Indra juga menjabat Komisaris KSEI mendampingi Dian. Saat ini, menjabat Presiden Direktur Panin Sekuritas. Indra sebelumnya bertugas sebagai Direktur Equity PT Andalan Artha Advisindo 2003-2011, anggota Komite Anggaran KSEI 2020-2021, anggota Departemen Perantara Pedagang Efek APEI 2020-2023, dan anggota Komite Perdagangan BEI 2020-2022. ”Kami melihat ke depan KSEI lebih berkembang dengan peran, dan fungsi makin bertambah seiring dinamika pasar modal,” tukas Indra.
Direktur Utama KSEI Uriep Budhi Prasetyo menyebut jumlah investor pasar modal Indonesia telah meningkat 92,99 persen 7,49 juta tahun lalu dari akhir 2020 sejumlah 3,88 juta investor. Akhir Mei 2022, jumlah investor pasar modal telah mencapai 8,85 juta orang. Secara demografi, jumlah investor pasar modal per akhir Mei 2022 didominasi investor dengan pendidikan terakhir SMA mencapai 60,93 persen dengan total asset Rp243 triliun. Sektor finansial, dan infrastruktur masih menjadi pilihan favorit.
Baca juga: Kebut Produksi, Energi Mega Amankan Pasokan Gas PLN
Data itu membuktikan investor dengan tingkat pendidikan terakhir SMA sudah banyak melirik pasar modal sebagai alternatif investasi. Sedang dari sisi pendapatan, 88,46 persen investor memiliki pendapatan di bawah Rp100 juta, dengan kepemilikan aset mencapai Rp338,37 triliun. Dari sisi usia, investor di bawah 30 tahun mencapai 59,91 persen, disusul usia 31-40 tahun mencapai 21,83 persen. Artinya, pemodal pasar modal Indonesia masih didominasi investor gen z, dan milenial.
Data karakteristik demografi investor menjadi acuan untuk pengembangan pasar modal Indonesia, terutama dari sisi infrastruktur disesuaikan dengan tren teknologi terkini. Karena masih didominasi gen z, dan milenial, pengembangan infrastruktur digital menjadi salah satu fokus KSEI. Sudah terwujud pembukaan rekening investasi secara online sejak 2019. ”Pengembangan itu, juga berdampak positif pada pertumbuhan jumlah investor pasar modal,” ucap Uriep.
Baca juga: Bumi Serpong Damai Bereskan Buyback Global Bond USD69,38 Juta
Sepanjang tahun lalu, laba bersih tercatat Rp281,05 miliar, melejit 23,42 persen dari periode sama 2020 senilai Rp227,72 miliar. Peningkatan itu, didukung pendapatan usaha Rp577,15 miliar, surplus 35,63 persen edisi sama 2020 sejumlah Rp425,55 miliar. Total pendapatan melesat 15,67 persen menjadi Rp755,84 miliar. Total aset tercatat Rp2,94 triliun, tumbuh 13,97 persen dari periode sama tahun sebelumnya Rp2,58 triliun. Ekuitas meningkat 11,57 persen menjadi Rp2,66 triliun dari edisi sama tahun sebelumnya Rp2,39 triliun. (abg)



























