indoposnews.co.id – Prambanan Jazz Virtual Festival hari pertama, Jumat, (19/11)dibuka dengan sangat magis oleh maestro tari kenamaan Indonesia, Didik Nini Thowok. Sang maestro ini membawakan tarian Dwi Muka, dengan latar belakang megahnya Candi Prambanan.
selanjutnya aksi Bellacoustic yang merupakan salah satu pemenang dalam kompetisi Borneo Goes to Prambanan Jazz 2021, menjadi penampil Prambanan Jazz Virtual Festival. Dalam penampilannya, Bellacoustic turut memperkenalkan budaya suku Dayak, dengan mengenakan “Sangkrut”, pakaian khas masyarakat suku Dayak berupa rompi dari kulit kayu, helai bulu burung tingang/engang sebagai simbol kebesaran masyarakat suku Dayak, yang dipadukan dengan musik etnik Dayak Kalimantan Tengah.
Baca Juga : Prambanan Jazz Festival 2021 Digelar secara Virtual
Dilanjutkan oleh Manjakani, duo folk asal Pontianak sebagai penampil ketiga, yang dilanjut oleh Nadin Amizah dimana tahun ini kembali tampil di panggung Prambanan Jazz Festival. Menariknya kali ini Nadin Amizah berkolaborasi dengan instrumen kendhang di beberapa lagu yang ia bawakan.

Nita Aartsen and The Eurasian Bigband feat Tompi menjadi penampil kelima pada penyelenggaraan Prambanan Jazz Festival hari pertama, dengan membawakan lagu-lagu dari R.Maladi, Krzysztof Komeda, Charles Trenet, Ismail Marzuki, Toots Thielemans, Norman Gimbel, M.Sagi, Georgie L, dan Crhist Kayhatu. Tentunya dengan aransemen ala Nita Aartseen and The Eurasian Bigband. Penampil keenam, ada Pamungkas yang sekaligus menjadi penutup hari pertama Prambanan Jazz Virtual Festival 2021.
Prambanan Jazz juga turut menayangkan perjalanan dan rangkuman kilas balik dari tahun ke tahun penyelenggaraan Prambanan Jazz Festival yang pertama kali digelar pada tahun 2015 oleh Rajawali Indonesia (Promotor). “Ini adalah kerja besar yang solid, semangat penyelenggaraan Prambanan Jazz Festival tetap harus dihidupkan dan semoga penyelenggaraan ini menjadi virus positif ditengah-tengah adanya virus corona. Api passion terus tetap terjaga dan jangan sampai padam” ujar Anas Syahrul Alimi, CEO Prambanan Jazz Festival.
Baca Juga : Digelar Secara Virtual, Prambanan Jazz Festival Pantang Menyerah
Selama berjalannya proses produksi pada venue Panggung Terbuka Ramayana Ballet. Protokol kesehatan berbasis CHSE seperti, prosedur wajib antigen sebelum memasuki area venue menjadi salah satu syarat bagi seluruh artis dan kru yang bertugas dalam gelaran tahun ini. Satuan Gugus Tugas juga turut hadir dan memantau berjalannya acara.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahudin Uno mengapresiasi penyelenggaraan Prambanan Jazz Festival tahun ini yang mampu beradaptasi dan berinovasi, “Penyelenggaraan kembali kegiatan event menjadi momentum yang paling dinanti dan diharapkan oleh masyarakat. Prambanan Jazz Festival merupakan festival musik yang pasti ditunggu-tunggu oleh penikmat musik di Indonesia dan di dunia setiap tahunnya. Saya berharap festival ini dapat menampilkan kearifan budaya lokal ke pentas global dengan menjadikan Candi Prambanan sebagai venue festival. Industri musik harus terus mengalun,’katanya. (ash)



























