Indoposnews.co.id – Dunia e-Commerce di Indonesia tumbuh pesat. Beragam konten creator mewarnai jagat e-commerce. Salah satunya Shilvia Tan. Perempuan berusia 38 tahun tersebut menjadi salah satu creator top e-Commerce Indonesia.
”Aku merambah ke konten kreator itu di 2020,” ujar Shilvia Tan mengawali kisahnya kepada indoposnews.co.id belum lama ini.
Dunia e-Commerce memang bukanlah hal baru bagi Shilvia Tan. Sejak memulai karirnya, dia sudah menekuni dunia estetika dan marketing. Kolaborasi apik dua bidang yang saling berkesinambungan ini mengantarkan dirinya menjadi salah satu kreator top e-Commerce Indonesia.
”Dan itu secara tidak sengaja. Karena ketertarikan orang-orang pada cerita hidup dan lifestyle dengan gaya yang unik itu bikin aku mudah naik dengan cepat,” ceritanya.
Baca juga : Mantap! Transaksi E-Commerce dengan BRImo E-Payment Tak Perlu Pindah Aplikasi
Sampe akhirnya, cerita Shilvia Tan dirinya ikut menjadi konten kreator afiliasi. “Jadi kayak jual barang punya brand itu dengan total omzet Rp 4 M dalam 1 bulan. Dari sana banyak banget brand-brand yang akhirnya Meminta kolaborasi nih. Sampe akhirnya jadi top creator di salah satu e-commerce besar di Indonesia dengan 2 akun besar juga dengan jutaan followers,” katanya.
Kesuksesan Shilvia Tan dengan total omset Rp 4 M dalam 1 bulan tidak diperoleh secara instan. Perjuangan yang melelahkan dan berliku tersebut dihadapinya dengan penuh tantangan dan kesabaran. ”Jujur dari rasa sakit hati lah aku bisa besar dan sampai di titik ini,” kata Shilvia.
Dalam perjalananya menuju pencapaian saat ini, Shilvia pernah merasakan dari nol. Diapun pernah merasakan pahitnya hidup tidak memiliki uang.
”Benar-benar kita nggak dianggap, dikucilkan dicemooh bahkan sering banget nggak dihargai, even itu dari keluarga,” katanya.
Baca juga : Blibli Edukasi Keamanan Bertransaksi di e-Commerce
Shilvia Tan pernah merasakan menjalani kehidupan tanpa memiliki rumah, bersama suaminya dia harus ngontrak dan dicemooh jadi makanan setiap hari. bahkan bersama suami pernah makan mie instan seminggu full.
“Satu mie instan ini kuah aku banyakin terus aku kasih nasi. nggak ada orang yang tahu buat hal ini. aku cerita ke mama papa hidup ku mewah. jadi aku nggak mau keluarga ku kepikiran. mau pinjem saudara saja kaya hutang nyawa. jadi aku gak mau, mending telan semua berdua,”katanya.
Kendati demikian, Shilvia Tan menegaskan, apa yang dialaminya kala itu bukanlah takdir, akan tetapi kemiskinan yang didapatinya kala itu adalah sebuah ujian untuk bisa melewati satu tahapan ke fase yang lebih matang dalam menjalani sebuah kehidupan.
“Aku pernah bilang ‘ miskin itu bukan takdir’ miskin itu cuman ngasih yang kamu bisa ubah. Aku pegang kata itu. Aku pegang buat cambuk aku untuk maju,” tegasnya.
Fase-fase yang dilewatinya menjadikan dirinya semakin matang dalam menghadapi setiap perjalan kehidupan.
” Turning pointnya Sukses itu nggak ada yang instan. Lalu mau sukses besar, kerja keras pun harus besar. Kalau mau membeli sesuatu tanpa melihat harga, maka bekerja keraslah tanpa melihat waktu,” terangnya. (ash)
Baca Juga : Transaksi Online Travel 2022 Diprediksi Naik



























