Indoposonline.net – Tampil kembali bermusik bukan urusan mudah, apalagi ditengah pandemi. Namun, kondisi tersebut tidak mempengaruhi Pendiri Magenta Orchestra Tono Supartono menyapa penggemarnya.
Setelah sempat vakum. Sebuah single berjudul Sang Bidadari menjadi terobosan terbaru musisik multi talenta untuk menyapa penggemarnya. Dibantu oleh sahabatnya yang juga merupakan salah satu pendiri Magenta Orchestra, yaitu Andi Rianto dalam pengerjaan lagu tersebut.
Sang Bidadari sendiri menjadi judul dari mini album solo milik Tono Supartono yang akan dirilis setelahnya.
Baca juga : Sang Bidadari Tanda Sang Maestro “Tono Supartono” Kembali Berkarya
Dalam proses pengerjaan single ini, Tono Supartono dibantu langsung oleh sahabatnya yang juga merupakan salah satu pendiri Magenta Orchestra yaitu Andi Rianto, yang saat ini juga dikenal sebagai salah satu komposer & music director senior tanah air.

Lagu Sang Bidadari sendiri pada awalnya merupakan sebuah ide spontan yang muncul di tengah kejenuhan Tono Supartono akan vakumnya berbagai kegiatan di masa awal pandemi covid-19.
Tono Supartono yang memang telah terbiasa mengisi waktu luangnya dengan bermusik dan menulis lagu, telah menghasilkan beberapa album yang menjadi hits, di antaranya album Tono & Trust Band, album Moving On (Magenta Singers), dan album Kumpulan Melodi Terbaik Tono Supartono. Dalam pengerjaan album Kumpulan Melodi Terbaik Tono Supartono, Tono bekerja sama dengan berbagai penyanyi antara lain, Nania Yusuf, Sammy Simorangkir, Be 3, Wisha Sofia Dewi (Magenta Singer), dan Alm. Dendy Mikes.
Baca juga : Berikut 5 Program Unggulan RCTI di Bulan Ramadan
Menurut keterangan Tono, lagu Sang Bidadari tercipta hanya dalam hitungan jam. Kemudian Tono pun berkomunikasi dengan Andi Rianto via telpon, untuk dibuatkan aransemen musik bernuansa orkestra. Tercetuslah dialog antara Andi dan Tono “kita memiliki Magenta Orchestra, tapi kita tidak bisa menggunakan Magenta Orchestra kita sendiri (karena pandemi)”, katanya.
akhirnya muncul ide Andi untuk coba menghubungi Budapest Scoring Orchestra dan disetujui oleh mereka. Andi meminta waktu selama tiga hari untuk menulis partitur Sang Bidadari, akhirnya Tono pun mengangguk sebagai tanda setuju.
Kolaborasi Jarak Jauh
Kondisi pandemi membuat Tono Supartono dan Andi Rianto tidak dapat mengawasi proses rekaman secara langsung ke Budapest. Sebelum proses rekaman dimulai, Andi Rianto secara berkala mengirimkan partitur yang akan dijadikan acuan melalui e-mail.
Proses pengawasan rekaman tersebut juga harus dilakukan secara jarak jauh dengan metode remote recording. Andi Rianto beserta sound engineer mengawasi proses rekaman instrumen orkestra secara langsung melalui layanan live streaming agar dapat memberikan feedback secara langsung.

Hal ini lah yang menjadi salah satu tantangan di dalam proses pembuatan Sang Bidadari, namun segala proses yang rumit ini bagi Tono Supartono dan Andi Rianto sebanding dengan kepuasan akan hasil rekaman Sang Bidadari. Perlu diketahui bahwa album ini proses mixingnya digarap oleh Tommy P. Utomo dan Masteringnya oleh Don Bartley (Sidney Australia).
Baca juga : Peringati Harkitnas, Puan Yakin Indonesia Bisa Bangkit dari Dampak Pandemi Covid-19
Single Sang Bidadari dapat mulai dinikmati di berbagai layanan streaming musik digital pada pukul 00:00 hari Kamis, 20 Mei 2021.
Perilisan single Sang Bidadari juga akan diikuti dengan perilisan video musiknya di tanggal yang sama. Video musik Sang Bidadari sendiri digarap oleh sutradara muda Wahyu Taufani Prialangga yang sebelumnya telah terlibat di dalam pembuatan beberapa video musik penyanyi besar tanah air, seperti Raisa, Noah, dan Bunga Citra Lestari.
Video musik yang proses shootingnya dilakukan di 2 Kota berbeda ini, sengaja dibuat dengan konsep sedemikian rupa agar dapat menyesuaikan nuansa dari single Sang Bidadari yang terbilang unik karena melibatkan kelompok musik orkestra dari Budapest.
Dengan perilisan single dan video musik dari Sang Bidadari ini, Tono Supartono berharap dapat menjadi inspirasi bagi para anak muda bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai dalam berkarya karena pada akhirnya usia hanyalah sebuah angka. (kar)



























