Indoposonline.NET – PT Garuda Indonesia (GIAA) butuh dana USD30 juta atau setara Rp43,2 miliar dengan kurs Rp14.400 per dolar Amerika Serikat (USD). Dana tersebut untuk mengeksekusi program pensiun dini karyawan tahap II sebanyak 1.100 orang. Program itu, salah satu upaya efisiensi Garuda.
Dana program pensiun dini akan dialokasikan dari dana operasional perusahaan per bulan. Program pensiun dini tahap II akan dilakukan sepanjang tahun ini. ”Eksekusi program dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi, dan kemampuan perusahaan,” tutur Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra, secara daring, Kamis (19/8).
Baca juga: PTPP Garap Penataan Pura Besakih Rp387 Miliar
Program pensiun dini sudah dijalankan sejak 2020. Tahun lalu, jumlah karyawan ikut program itu, tercatat 591 karyawan. Selain pensiun dini, Garuda juga melakukan sejumlah upaya lain untuk mengurangi jumlah karyawan. Misalnya, mempercepat penyelesaian kontrak bagi pegawai dengan kontrak atau PKWT, tidak melakukan rekrutmen karyawan, dan merumahkan karyawan dengan profesi pilot secara bergantian.
Sekadar informasi, Garuda Indonesia membukukan kerugian bersih USD2,47 miliar sepanjang 2020. Angka itu, membengkak dari posisi 2019 lalu merugi USD44 juta. Itu sejalan dengan pendapatan usaha dari penerbangan berjadwal jeblok menjadi USD929 juta dari sebelumnya USD3,44 miliar. Pendapatan kargo dan dokumen penerbangan berjadwal turun ke USD271 juta dari USD326 juta. (abg)



























