Indoposonline.NET – Bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street anjlok para menyudahi perdagangan Senin (19/7). Itu terjadi di tengah kekhawatiran ledakan kasus Covid-19 bakal mengganjal pertumbuhan ekonomi global. Aksi jual saham membuat Dow Jones Industrial Average mengalami hari terburuk sejak Oktober 2020.
Dow Jones menukik 725,81 poin atau 2,1 persen menjadi 33.962,04. Dow Jones sempat ke level terendah dengan ambles 946 poin sebelum pulih pada penutupan. S&P 500 merost 1,6 persen menjadi 4.258,49. Energi, keuangan, dan industri, sektor dengan kinerja terburuk.
Baca juga: Dirut Huni Penjara, Hanson International Antre Masuk Jurang Delisting
Nasdaq Composite didominasi sektor teknologi terpangkas 1,1 persen menjadi 14.274,98. Nasdaq membukukan pelemahan hari kelima beruntun, dan koreksi tanpa putus terburuk sejak Oktober. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) 10 tahun mencapai level terendah 5 bulan di kisaran 1,17 persen memperburuk kekhawatiran perlambatan ekonomi.
Kasus Covid-19 kembali merangkak naik AS bulan ini karena varian delta lebih menular. AS mencatat rata-rata 26 ribu kasus baru sehari dalam tujuh hari terakhir, naik dari rata-rata 7 hari sekitar 11 ribu kasus sehari sebulan lalu. Kasus sudah melonjak seluruh dunia karena varian delta. Sektor maskapai penerbangan kembali terpukul. Saham Delta Airlines anjlok 4 persen, American Airlines minus 4 persen, United Airlines tekor 5 persen.
Baca juga: Proyek Reklamasi Tak Jelas, Moody’s Lorot Rating Utang Agung Podomoro Land
Saham utama terkait pertumbuhan ekonomi global juga turun. Boeing merosot 5 persen. General Motors tekor 2 persen, dan Caterpillar turun 2 persen. Sementara harga minyak turun di tengah kekhawatiran perlambatan pertumbuhan, dan karena OPEC+ setuju menghentikan pengurangan produksi secara bertahap. Saham energi termasuk berkinerja terburuk, dengan ConocoPhillips turun 3 persen, dan Exxon Mobil tergerus 3 persen. Minyak mentah WTI anjlok 7,5 persen menjadi USD66,42 per barel. (abg)