indoposnews.co.id – Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) paruh pertama 2025 mengantongi mandat penerbitan obligasi korporasi Rp62,37 triliun. Mayoritas rencana penerbitan itu, datang dari kalangan swasta. Itu menunjukkan korporasi non-pemerintah di tengah ketidakpastian global menggeliat.
Setidaknya ada 53 perusahaan siap menjajakan surat utang korporasi pada semester II-2025. Nah, dari jumlah itu, 34 perusahaan dari sektor swasta dengan estimasi mencapai Rp32,73 triliun. Lalu, sisanya entitas BUMN, anak usaha BUMN, dan BUMD dengan total Rp29,63 triliun.
“Mandat belum listing ini bisa menjadi gambaran prospek penerbitan semester kedua. Nilainya mencapai Rp62 triliun,” tutur Suhindarto, Kepala Ekonom Pefindo, dalam konferensi pers secara virtual, Selasa, 15 Juli 2025.
Baca juga: Melejit 48 Persen, Pefindo Catat Obligasi Korporasi Rp90,9 Triliun
Secara sektoral, perbankan dengan lima perusahaan akan menerbitkan Rp9,4 triliun, multifinance delapan perusahaan Rp9,1 triliun, dan sektor pertambangan tujuh perusahaan Rp7,8 triliun. Sementara perusahaan induk (holding) mencatat mandat Rp6,8 triliun, dan lembaga keuangan khusus Rp6,5 triliun.
Sektor lainnya dengan nilai di bawah Rp5 triliun. Dari sisi instrumen, mayoritas surat utang akan diterbitkan dalam format Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) senilai Rp41,29 triliun. Selain itu, ada rencana penerbitan sukuk, medium term notes (MTN) Rp3 triliun, dan instrumen sekuritisasi Rp2,05 triliun.
Pefindo melihat tren penerbitan surat utang korporasi akan tetap aktif hingga akhir 2025. Pendorong utama kebutuhan pembiayaan kembali (refinancing), ekspansi usaha, dan minat tinggi terhadap pendanaan jangka menengah.
Di sisi lain, perusahaan makin condong mencari pendanaan domestik untuk menghindari risiko nilai tukar, dan lonjakan suku bunga global, terutama Amerika Serikat. “Menilik situasi global, banyak perusahaan lebih memilih pasar domestik cenderung stabil untuk mengamankan pendanaan,” ucap Suhindarto. (abg)



























