Indoposonline.NET – Bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street menyudahi perdagangan Senin (28/6) bervariasi. Indeks S&P 500 surplus 0,23 persen menjadi 4.290,61. Indeks Nasdaq menanjak 0,98 persen ke posisi 14.500,51. Indeks Dow Jones minus 150,57 poin ke level 34.283,27.
Wall Street dibayangi sentimen Facebook menang di pengadilan, dan mendorong saham teknologi menguat. Saham Facebook melompat lebih dari empat persen setelah pengadilan federal AS menolak kasus antimonopoli terhadap perusahaan dari Komisi Perdagangan Federal. Sentimen itu, mendorong kenaikan harga saham Facebook sehingga membentuk kapitalisasi pasar di atas USD1 triliun.
Baca juga: Mantap! Bos Ini Borong 1,38 Juta Saham Krakatau Steel
Saham semikonduktor berada titik terang dengan Nvidia naik lima persen dan Broadcom menguat lebih dari dua persen. Saham Boeing membebani indeks Dow Jones dengan turun lebih dari tiga persen. Itu setelah regulator mengklaim tidak mungkin menerima sertifikasi untuk pesawat jarak jauh hingga medio akhir 2023.
Pergerakan wall street pada awal pekan juga didukung koreksi imbal hasil obligasi AS. Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun turun menjadi 1,48 persen. Selain itu, lompatan Wall Street juga didorong investor semakin yakin inflasi saat ini bukan ancaman ekonomi berkelanjutan, tetapi kenaikan sementara. Indeks S&P 500 mencapai rekor tertinggi, sedangkan Nasdaq bertambah 2,35 persen sepekan.
Baca juga: Berkat Platform Keren Ini, Investor Bisa Ikut RUPS secara Virtual
Kenaikan juga terjadi setelah departemen perdagangan melaporkan inflasi naik 3,4 persen pada Mei, dan merupakan kenaikan tercepat sejak awal 1990. Lonjakan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti dapat membuat investor khawatir. Itu karena bank sentral AS atau the Federal Reserve (The Fed) suka mengawasi tanda-tanda inflasi.
Namun, kenaikan month-over-month sebenarnya menekankan apa perkiraan para ekonom hasil survei Dow Jones. Memperkuat investor kalau inflasi cenderung bersifat sementara, dan dapat dikelola.
Baca juga: Lonjakan COVID-19 Hambat Kinerja Pertumbuhan Ekonomi
Sementara itu, bursa Asia Pasifik mayoritas ditutup melemah. Indeks Shanghai Stock Exchange minus 0,03 persen, Hang Seng tekor 0,07 persen, KLSE turun 0,96 persen, Nikkei ambles 0,06 persen, dan KOSPI menukik 0,03 persen. Praktis hanya indeks Strait Times surplus 0,17 persen.
Selanjutnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) nyungsep 1,37 persen ke level 5.939,47. Total volume perdagangan 15.743 miliar saham dengan total nilai transaksi Rp11,4 triliun. Indeks sejak awal perdagangan tertekan karena sentimen negatif peningkatan kasus aktif Covid-19 terus berlanjut.
Baca juga: Perjalanan Yamaha di Balapan Grand Prix Dunia
Karena itu, bersandar pada data tersebut Salvian Fernando, Equity Research Analysts Victoria Sekuritas meramal perdagangan Selasa (29/6), Indeks akan kembali tertekan. Indeks akan menjelajahi titik edar pada support 5.856, dan resisten 6.026. Itu tersebab sentimen negatif perkembangan pandemi Covid-19 semakin mengkhawatirkan.
Saat ini, peningkatan kasus aktif Covid-19 masih terus berlanjut. Belum ada tanda-tanda menunjukkan penurunan. Jumlah kasus aktif Covid-19 Indonesia Senin (28/6) mencapai 218.476 jiwa. Itu diikuti Bed Occupancy Rate (BOR) lebih dari 24 kota telah melebihi 90 persen. Situasi itu, menimbulkan kekhawatiran berkepanjang. Sebab, kalau lompatan terus berlanjut, rumah sakit akan tidak sanggup menampung pasien Covid-19.
Baca juga: Produsen Emas Archi Indonesia IPO, Ini Rencana Bisnisnya
Secara teknikal, Indeks pada perdagangan kemarin juga gagal mempertahankan level psikologis 6.000. Oleh karena itu, support selanjutnya untuk Indeks bergeser ke posisi 5.856. Saham-saham layak untuk diperhatikan antara lain saham Gudang Garam (GGRM), Bank Syariah Indonesia (BRIS), dan Wismilak Inti Makmur (WIIM).
Khusus Wismilak ada sejumlah alasan. Menilik perdagangan Senin (28/6), saham Wismilak sukses naik cukup signifikan dengan volume besar. Tidak disangkal, saham Wismilak pada perdagangan kemarin turun dari level tertinggi yaitu Rp705 per saham. Namun, saham Wismilak tetap berhasil bertahan di atas level support yaitu Rp660 per lembar. Oleh karena itu, prospek saham Wismilak masih berpotensi melanjutkan lompatan dengan target price Rp700. (abg)



























