Indoposonline.NET – PT Wijaya Karya (WIKA) mengantongi penilaian wajar transaksi konsolidasi anak usaha, Wika Realty. Sebagai pengendali holding Hotel BUMN, Wika Realty akan melakukan inbreng saham, dan akuisisi untuk mengintegrasikan sebelas hotel. “Berdasar pertimbangan analisis kewajaran penilai independen, rencana transaksi secara keseluruhan wajar bagi perseroan, dan pemegang saham,” tutur Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya, Mahendra Vijaya, kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Minggu (22/8).
Sementara itu, sebelas hotel itu antara lain satu hotel dari PT Aero Wisata, sembilan hotel dari PT Pegadaian, dan PT Hotel Indonesia Natour. Sejumlah langkah sudah ditempuh untuk pembentukan holding Hotel BUMN tersebut.
Baca juga: General Motors (GM) Tagih Komitmen LG
Misalnya, WIKA telah menambah penyertaan saham ke Wika Realty Rp775 miliar. Sebagian untuk membeli aset hotel Pegadaian. Lalu, sebagian untuk pengambilalihan saham secara tunai PT Hotel Indonesia Group (HIG), PT Senggigi Pratama Internasional, dan nantinya PT Hotel Indonesia Properti. Soal HIG, Wika Realty telah mengakuisisi 49 persen saham milik PT Patra Jasa pada HIG untuk mengoperasikan, dan mengelola hotel-hotel yang diintegrasikan.
Mengenai akuisisi Senggigi Pratama, Wika Realty telah melakukan tukar saham dengan induk usaha Senggigi, PT Aero Wisata, ditambah pembayaran tunai. Saham Senggigi juga dibeli secara tunai dari Dana Pensiun AWS. Selanjutnya, hotel milik Pegadaian, Wika Realty telah membeli sembilan aset hotel Pegadaian, dan aset FF & E milik PT Pesonna Jaya Indonesia. Lokasi hotel itu, berlokasi di Tegal, Pekalongan, Tugu Yogyakarta, Ngupasan Yogyakarta, Gresik, Makassar, Semarang, Pekanbaru, dan Surabaya.
Baca juga: Minus 10,88 Persen, Rata-Rata Nilai Transaksi Harian Bursa Jadi Rp13,90 Triliun
Selanjutnya, Wika Realty akan mengakuisisi saham Hotel Indonesia Properti milik PT Hotel Indonesia Natour dengan cara tukar saham, dan pembayaran tunai. Saham Hotel Indonesia Properti juga akan dibeli dari Koperasi Karyawan Grand Bali Beach. Total transaksi untuk mengintegrasikan sebelas hotel itu, akan bernilai Rp3,22 triliun. WIKA menyebut, nilai transaksi itu, tidak material. Maklum, sekitar 19,20 persen dari ekuitas perusahaan sebesar Rp16,79 triliun.
Namun, transaksi tersebut bersifat afiliasi. Di mana, 99,99 persen saham PT Aero Wisata dimiliki PT Garuda Indonesia (GIAA) yang sahamnya dimiliki Pemerintah Indonesia. Begitu juga pemerintah memiliki saham Pegadaian, Hotel Indonesia Natour, dan WIKA. Saat ini, WIKA mengapling 94,24 persen saham Wika Realty. Nantinya, WIKA akan mempertahankan kepemilikan mayoritas Wika Realty meski akan ada pemegang saham baru.
Secara konsolidasi, Wijaya Karya akan mendapat limpahan aset dari transaksi hotel dilakukan Wika Realty. Setelah transaksi itu, aset Wijaya Karya akan menjadi Rp65,32 triliun, naik 5,46 persen dari sebelum transaksi Rp61,94 triliun. Selanjutnya, hotel-hotel itu akan memberi pendapatan berulang atau recurring income bagi Wika Realty, dan juga akan menyumbang peningkatan rata-rata pertumbuhan (CAGR), dan Ebitda Wijaya Karya. (abg)