indoposnews.co.id – Dewan Pengurus Pusat Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) menggelar Rapat Pimpinan (Rapim) perdana periode 2025–2030 di Atria Sudirman, Jakarta. Rapim ini menjadi momentum penting untuk menegaskan arah baru Gekrafs dalam membangun ekonomi kreatif masa depan Indonesia. Melalu agenda penting ini, Gekrafs mengumumkan susunan kepengurusan lengkap untuk periode 2025–2030.
Ketua Umum DPP Gekrafs Kawendra Lukistian menyampaikan bahwa Rapim menjadi awal konsolidasi untuk menyelaraskan gerakan Gekrafs melalui Delapan Program Prioritas dan Strategis yang disebut ‘ASTAKARYA’. Program ini sejalan dengan visi kemandirian ekonomi yang ditargetkan Presiden Prabowo dalam Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045.
Noval Abuzarr, yang juga Wakil Ketua Harian DPP GEKRAFS, menyampaikan bahwa salah satu yang menjadi fokus periode baru ini adalah Meneguhkan Posisi Kreatif Indonesia di Panggung Global, baik dari sisi pelaku, UMKM dan peran pemerintah.
Baca juga : Kawendra Lukistian Kembali Terpilih Ketum, Gekrafs Kampus Punya Harapan Besar
Noval juga menyoroti langkah strategis pemerintah Indonesia yang kini menjadi perhatian banyak negara — yakni keberadaan Kementerian Ekonomi Kreatif di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yang menandai keseriusan Indonesia menempatkan kreativitas sebagai poros pembangunan ekonomi baru. “Ini momentum untuk memperkuat arah kebijakan dan memastikan pelaku kreatif dan UMKM Indonesia di semua lapisan mendapat akses yang setara,” tambahnya.
Sebagai salah satu aktivis yang kompeten dan konsisten memperjuangkan pengembangan Ekonomi Kreatif dan UMKM di Indonesia, Noval menegaskan pentingnya memperluas ruang kolaborasi. Menurutnya, masa depan ekonomi kreatif Indonesia bergantung pada kemampuan menciptakan sistem yang menyatukan pelaku dari berbagai latar: pengrajin, seniman, perancang, pengembang teknologi, hingga produsen lokal.
“Ekonomi kreatif tidak boleh berhenti di pusat kota. Ia harus hidup di desa, di pasar tradisional, di ruang-ruang kecil tempat ide-ide lahir,” katanya. “Ketika kreativitas menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, di situlah kekuatan bangsa dibangun.” tutupnya. (san)



























