Indoposnews.co.id – Musyawarah Nasional (Munas) II Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (Aspaki) digelar. Dihadiri 120 anggota secara luring, dan 60 anggota secara daring, Munas digelar di Bidakara, Jakarta, 9 Desember 2021.
Sebagai forum tertinggi asosiasi, Munas kali ini memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan masa depan asosiasi dalam mencapai cita cita luhur industri alat kesehatan yang mandiri dan berdaya saing, termasuk menetapkan strategi untuk mengatasi masalah yang dihadapi industri ini.
“Saat ini produk alat-alat kesehatan di Indonesia cuma mengcover 12% dipasaran selebihnya di kuasai oleh produk import, jadi ini jauh sekali perbedaannya.” Ucap Cristina Sandjaja selaku Bendahara Umum periode 2017-2021 pada media disela acara Munas Aspaki.
Baca Juga : KAI Bagikan 11.000 Voucher Tiket KA Jarak Jauh Gratis untuk Nakes, Guru, dan Veteran
Untuk itu, peran asosiasi yang menaungi industri menjadi sangat strategis dalam upaya pembinaan dan pengembangan industri nasional, sehingga industri nasional menjadi lebih berdaya saing. Dengan adanya asosiasi, dunia usaha yang tergabung dalam asosiasi industri terus membangun sinergi dengan pemerintah dalam mengakselerasi pertumbuhan industri.
Cristina berharap agar penggunaan produk alat kesehatan di dalam negeri semakin meningkat, kuat dan menjadi raja dinegeri sendiri.
Hal yang sama juga ditegaskan oleh Sekjen Imam Subagyo, bahwa kita harus membela produk kesehatan dalam negeri dengan fokus mendukung produsen alat kesehatan dengan terus mengembangkan mutu produksi, kualitas dan terus mengikuti standar-standar nasional. Ia juga berharap kepada pemerintah untuk lebih berpihak kepada indusri dalam negeri.
Baca Juga : Penuhi Permintaan, RNI Produksi Alkes Oksigen secara Mandiri
Sebagaimana diketahui ASPAKI adalah asosiasi yang menaungi produsen alat kesehatan Indonesia, saat ini beranggotakan 152 industri, yang memproduksi berbagai alat kesehatan, seperti masker, jarum suntik, hospital furniture, bahan habis pakai, alat elektromedis, produk IVD (in vitro diagnostic), yang jumlah industri dan produknya terus meningkat seiring dengan peningkatan kebutuhan masyarakat akan alat kesehatan.
Seluruh anggota ASPAKI memiliki legalitas resmi sebagai produsen alat kesehatan, dan sebagian besar telah menerapkan dan memiliki sertifikat CPAKB (Cara Produksi Alat Kesehatan yang Baik).
Melalui berbagai program kerja yang dilakukan, ASPAKI mendukung kementerian dan lembaga terkait dalam memperkuat sistem kesehatan nasional. Hal ini selaras dengan implementasi amanat Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan untuk pencapaian kemandirian sediaan farmasi dan alat kesehatan.
Data dari Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa dalam 6 tahun terakhir terdapat 518 industri alat kesehatan yang baru, atau setara 268,39 %, sebagian besar di antaranya didirikan saat pandemi terjadi. Pertumbuhan yang signifikan tersebut tercermin dalam investasi di bidang alat kesehatan yang mencapai Rp 441 miliar, terdiri dari Rp 209 miliar investasi lokal dan Rp 232 miliar investasi asing.
Baca Juga : Alat Swab Antigen Impor Diduga Beredar, Ribuan Karyawan Alkes Terancam Dirumahkan
Kapasitas produksi industri alat kesehatan Indonesia saat ini cukup mumpuni secara kuantitas dan kualitas. Dari 19 alkes yang paling banyak digunakan di Indonesia, 16sudah mampu diproduksi dalam negeri, sementara tiga lainnya masih impor. Sehingga untuk meningkatkan penggunaan produk alat kesehatan dalam negeri, baru baru ini pemerintah membatasi penayangan 79 produk impor dari total 358 jenis alkes produksi dalam negeri yang sudah dapat menggantikan produk-produk impor di e-katalog LKPP.
Namun demikian, tantangan dan hambatan dalam industri alat kesehatan saat ini masih cukup tinggi. Masih rendahnya kesadaran pengguna anggaran untuk memprioritaskan pembelian produk lokal dengan kualitas baik, kebijakan strategis substitusi impor yang belum maksimal dilakukan, serta bahan baku alat kesehatan yang beragam dan masih banyak impor, menjadi hal-hal yang perlu dibenahi demi menuju industri alat kesehatan nasional yang unggul dan berdaya saing. (ash)



























