indoposnews.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak bervariasi cenderung menguat. Itu akan didukung lonjakan sejumlah harga komoditas macam minyak mentah, Crude Palm Oil (CPO), dan batu bara.
”Selain itu, kelanjutan aksi beli asing diprediksi menjadi sentimen positif gerak IHSG,” tutur Mino, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, Jumat (7/1).
Baca juga: Jual 6 Juta Saham Dharma Polimetal, Pengendali Ini Kemas Duit Miliaran Rupiah
IHSG hari ini, Jumat (7/1) akan menyusuri level support 6.610, dan resistance level 6.700. Sejumlah saham laik beli antara lain ADRO support Rp2.260, resisten Rp2.340, WIKA support Rp1.115, resisten Rp1.145, BBTN support Rp1.685, resisten Rp1.720, dan BTPS support Rp3.620, resisten Rp3.720.
Koreksi indeks Bursa Amerika Serikat (AS) Wall Street diprediksi akan memberi sedikit sentimen negatif di pasar. Pada perdagangan kemarin, indeks Wall Street kembali drop. Dow Jones minus 171 poin (0,47 persen) menjadi 36.236, S&P 500 terkoreksi 5 poin (0,10 persen) pada level 4.696, Nasdaq menukik 19 poin (0,13 persen) pada posisi 15.081, dan EIDO melemah 0,18 poin (0,79 persen) pada level 23.05.
Baca juga: Graha Layar Prima Perpanjang Jatuh Tempo Kredit Rp41 Miliar
Koreksi kali kedua secara beruntun itu, seiring saham sektor teknologi berkapitalisasi besar masih tertekan. Itu dipicu aksi rotasi investor ke saham sektor diuntungkan pembukaaan ekonomi setelah bank sentral AS mengindikasikan mulai menerapkan kebijakan moneter ketat karena kondisi ekonomi tidak butuh dukungan kebijakan moneter longgar.
Saham sektor teknologi cukup dirugikan penerapan kebijakan moneter ketat kembali mengalami tekanan jual. Tesla tekor 2 persen, Netflix ambles 2 persen, Apple minus 1,6 persen, Amazon turun 0,6 persen, Meta Platforms menukik 2,5 persen, Alphabet melemah kurang dari 1 persen. Saham sektor energi dan perbankan macam Diamondback Energy naik 4,6 persen, Devon Energy 3,7 persen, Occidental Petroleum 2,95 persen, Well Fargo 2,54 persen, Bank of America 2,01 persen.
Baca juga: Jalani 2022, Inocycle Technology Optimistis Penjualan Tumbuh 20 Persen
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun menyentuh level di atas 1,75 persen, naik cukup signifikan dari level penutupan akhir tahun lalu di level 1,51 persen. Kenaikan imbal hasil itu, tidak terlepas dari adanya potensi pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral AS tahun ini. (abg)



























